Renungan Minggu

Yesus Sang Pembebas

Harian The New York Times edisi 5 Juni 2016 mengulas sosok Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang mengguncang system perpolitikan di Indonesia. Ahok membawa pembebasan bagi para politisi yang “tersandera” partai politik hingga tidak dapat berbuat banyak bagi kepentingan masyarakat. Sejak menjabat November 2014, Ahok disebut tidak menunggu lama untuk “menyikat” birokrat yang tidak kompeten dan memberantas korupsi yang merajalela. Gaya ber-politik Ahok tidak hanya membawa pembebasan. Bagi rakyat, politisi dan birokrat yang bersih, gaya ber-politik Ahok itu membebaskan. Namun bagi politisi dan birokrat opurtunis-koruptif, plus kelompok-kelompok fanatik yang rasis-parasit, gaya ber-politik Ahok itu sungguh menindas.
Ketika Yesus mendarat di tanah orang Gerasa (tanah orang kafir, yang terpisah dari komunitas Yahudi) sambutan pertama adalah seorang laki-laki yang menemui-Nya. Orang itu disebut sebagai “…orang yang dirasuki oleh setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah, tetapi dalam pekuburan.” (ay.27). Orang yang menyambut Yesus ini adalah seorang yang sedang dirasuki Legion (5600 setan). Laki-laki ini begitu menderita dan terasing dalam kurun waktu yang cukup lama.
Dan ternyata, kedatangan Yesus membuat setan-setan tersebut memohon agar Yesus tidak mengusik keberadaan roh-roh jahat itu, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu supaya Engkau jangan menyiksa aku.” (ay.29). Yesus kemudian membebaskan dan memulihkan kembali orang ini sebagai manusia seutuhnya! Namun dalam setiap karya Yesus ternyata tidak membawa sukacita bagi masyarakat Gerasa. Beberapa penjaga kawanan babi menjadi marah sebab legion itu masuk ke babi-babi mereka dan kemudian binasa tercebur ke danau. Bagi mereka, babi-babi itu lebih berharga ketimbang satu jiwa manusia yang kerasukan ini.
Meskipun kehadiran Yesus ditolak di Gerasa namun orang yang telah disembuhkan Yesus itu pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas diri-Nya.” (ay 39b). Dengan kesaksiannya banyak orang mengalami perjumpaan dengan Yesus dan menerima “pembebasan” pula dari dosa dan mendapatkan keselamatan. Bagaimana dengan hidup kekristenan kita, adakah kehadiran kita juga membawa pembebasan bagi orang lain, atau justru keterbelengguan atas kehidupan mereka. (JS)