Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Tuhan Meninggikan Orang Yang Rendah Hati

Saudara pernah marah-tersinggung hanya karena sebuah kata yang ketus? Bahkan mungkin  saudara sakit hati sampai bertahun-tahun. Apa yang menyebabkan orang marah-tersinggung? Mungkin kita akan menjawab kata-kata itu sungguh amat menyakitkan. Benarkah  kata-kata itu yang menyakitkan ? Atau pribadi kitakah yang lemah ? Bukan….. Mungkin kita bukanlah pribadi yang lemah dan kata-kata ketus itupun tidak ada apa-apanya. Permasalahannya: hati kitalah yang terlalu tinggi.

Tinggi hati membuat :
– harga diri,
– gengsi,
– keinginan dihormati, semua ikut menjadi tinggi.

Tinggi hati membuat kita merasa diri :
– terhormat,
– mulia dan
– sempurna.

Sikap inilah yang membuat kita gampang ;
– tersinggung,
– mudah sakit hati dan
– berprasangka buruk.

Tinggi hati membuat kita
– rapuh dan
– jiwa kita lemah.

Jika kita mau jadi kuat, belajarlah rendah hati setiap saat, maka kata-kata ketus itu tidak akan berarti apa pun bagi kita.

Kerendahan hatinya bukan polesan, bukan pula sekadar formalitas atau sopan santun. Itu berasal dari lubuk hatinya, manusia batiniahnya. Maka, tidak mengherankan bahwa Yesus sangat memprioritaskan  mengajar para pengikutnya agar rendah hati! Kerendahan hati adalah melakukan hal yang baik tanpa ingin diketahui atau dipuji oleh orang. Kerendahan hati yang sesungguhnya tidak mengatakan tentang diri sendiri bahwa ‘saya ini rendah hati’ (yang berhak mengatakan demikian hanya Tuhan). Kerendahan hati yang sesungguhnya berkaitan dengan menyembunyikan diri dalam artian tidak menonjolkan diri untuk dipuji, dan menyatakan kebajikan hanya untuk maksud mengasihi. (JS)