Renungan Minggu
Pdt. Ibu Helen Aramada

The Blame Game

Bisakah masalah kita selesai dengan saling menyalahkan?

“Salah siapa?” – Pertanyaan ini sering muncul ketika sebuah persoalan terjadi. Juga di dalam keluarga, seringkali lebih mudah bagi kita untuk mulai mengurai suatu persoalan dengan mencari siapa yang menyebabkan persoalan ini muncul. Tidak jarang, dalam sebuah persoalan relasi, yang terjadi adalah saling tuding, saling menyalahkan, saling menuntut dan saling meminta pertanggungjawaban. Kita lupa untuk mengingat satu hal: bisakah masalah kita selesai dengan saling menyalahkan? – biasanya yang terjadi justru masalah bertambah rumit, bagaikan benang yang semakin kusut.

Kisah Esau dan Yakub yang kita baca hari ini sekilas tampaknya berawal dari kesalahan Esau yang menjual hak kesulungannya dengan semangkuk sup. Tetapi bukankah persoalan sesungguhnya tidak semata-mata antara Esau dan Yakub? Seperti yang kita renungkan minggu yang lalu, ada peran orang tua yang sejak awal lebih menyayangi salah satu anak. Juga, dalam kisah hari ini, ada juga peran Ribka yang menyuruh Yakub untuk berpura-pura menjadi Esau di depan ayahnya yang pengelihatannya sudah berkurang, demi mendapatkan berkat sebagai anak sulung. Bahkan ketika Yakub pun masih berpikir ulang tentang hal itu, Ribka tetap mendesaknya untuk melakukan kebohongan ini (ay. 11-13). Esau pun hadir dengan tudingan kepada Yakub, ia mengangkat kembali  “label” yang terkandung dalam nama Yakub: penipu (ay. 36). Sang ayah, yaitu Ishak – yang telah memberikan berkat kesulungan kepada Yakub – juga ikut menggunakan kata-kata yang negatif, “Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu” (ay. 35). Kata-kata ini lebih terdengar seperti provokasi, dan bukan justru meredakan amarah Esau.

Berkat kesulungan yang semestinya jatuh ke tangan Esau sebagai yang sulung, telah jatuh ke tangan Yakub. Waktu tidak dapat diputar ulang, ucapan berkat pun tidak dapat diulang atau ditarik kembali. Semua sudah terlanjur terjadi. Namun demikian, dari kisah ini kita melihat bahwa sebuah persoalan  di tengah keluarga kita tidak dapat diatasi dengan saling menuding atau menyalahkan, karena sangat mungkin, setiap anggota keluarga yang lain juga punya andil berbuat salah di balik semua yang terjadi. Maka sikap yang diperlukan untuk menghadapi persoalan adalah dengan rendah hati berani mengakui kesalahan kita serta memperbaiki keadaan dengan cara-cara yang benar. Kita pun diingatkan untuk menghindari sikap-sikap provokasi di tengah sebuah relasi yang retak. Melalui kerendahan hati untuk menyelesaikan persoalan secara bersama-sama, kita sedang membuka ruang bagi kuasa Tuhan yang memulihkan dan menghadirkan damai bagi keluarga kita. (HAS)