Renungan Minggu
Pdt. Em. Wibisono Siswanto

Tetap Berdiri Walau Sendiri

Ayub 19:13-27, Matius 19:3-12, Mazmur 139

Pernikahan adalah suatu kesatuan sosial dan spiritual, juga kesatuan seksual. Pernikahan  dibangun atas dasar hubungan persekutuan persahabatan, di mana suami-istri saling mengasihi dan mencintai. Alkitab memberikan dasar dan tujuan pernikahan :
1.    Pernikahan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan emosional, “Tidak baik manusia seorang diri” (Kejadian 2:18).
2.    Pernikahan mempunyai tujuan sosial, ‘’Beranak-cuculah dan bertambah banyak…” (Kejadian 1:28).
3.    Pernikahan bertujuan mencegah imoralitas, “… tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah seorang laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1 Korintus 7:2).
Namun kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan dengan mulus, ada keluarga yang hancur. Musa tidak mengizinkan perceraian, tetapi menyatakan adanya perceraian dan demi melindungi perempuan dari ketidakadilan. Tidak jarang kita mempermainkan peraturan demi keuntungan pribadi. Padahal, jelas bertentangan dengan kehendak Allah. Namun bila terpaksa kita harus sendiri, marilah kita tetap tegar dan tetap menyerahkan hidup kita dalam tangan pemeliharaan Tuhan.
Setelah 3 tahun menikah dan dikaruniai sepasang anak yang lucu, tiba-tiba Santo berubah sifatnya menjadi tak peduli pada keluarga, temperamen, sering pulang malam, dan jarang di rumah. Dua tahun kemudian Santo menyampaikan keinginannya untuk bercerai pada Santi istrinya. Sambil menangis sang istri berkata : “Mas, ingatlah akan anak-anak, hasil buah kasih kita..” Tapi Santo tak bergeming dan sejak saat itu ia pun pergi meninggalkan keluarganya tanpa pernah kembali lagi ke rumah.
Lima tahun kemudian, Santi yang hidup sebagai “single mother” telah menduduki posisi direktur dan sedang mencari manager keuangan. Bagian HRD menyerahkan data seorang kandidat untuk diinterview-nya. Ketika bertemu, ternyata kandidat itu adalah Santo! Suami yang telah mengkhianatinya itu terlihat lebih tua dan letih, katanya : “Maafkan aku Santi…” Santi terdiam beberapa saat, lalu berkata sambil menitikkan air mata : “Santo, kau adalah suamiku dan ayah dari anak-anak kita. Pulanglah, pintu rumah selalu terbuka untukmu..”
Hukum dan aturan punya makna bila kita bersedia mengartikan kehadirannya. Bila terpaksa kita sendiri, marilah kita tetap memberi ruang untuk rekonsiliasi dan ruang untuk membangun kebersamaan, karena tidak baik manusia seorang diri. (WS)