Renungan Minggu
Pdt. Ibu Rinta Kurniawati Gunawan

Serukan Berita Pertobatan

Dengan berkembangnya media sosial, kita dapat dengan mudah mengunggah dan mengunduh berita-berita yang kita ingini. Kita tidak lagi perlu bingung untuk mencari tempat makan yang enak dan sesuai kantong ketika sedang berlibur keluar kota atau bahkan keluar negeri, karena kita bisa mencari ulasannya terlebih dahulu di media sosial. Kita juga dimanjakan dengan berita-berita tentang kesehatan, film, pendidikan, kehidupan para artis, serta berita mengenai bencana, situasi politik, dan lain-lain. Dengan pesatnya perkembangan berita di dunia maya, kita mungkin kuatir dengan adanya berita-berita hoax yang menyesatkan. Namun di sisi lain, kita sangat diuntungkan karena dengan mudah mendapatkan info terkini.
Bagaimana dengan berita firman Tuhan? Mungkin kita juga bisa dengan mudah mendapatkan berita dan ulasan tentang firman Tuhan dari media sosial. Peredaran renungan-renungan atau nasihat-nasihat kehidupan di grup-grup WA pun semakin semarak. Namun sayangnya, tidak menjamin bahwa semuanya itu akan mengubah hidup seseorang. Renungan atau berita tersebut tidak salah, yang menyebarkannya pun bermaksud baik. Hanya saja penyampaian berita semacam itu kurang personal, sehingga tidak menyentuh hidup pribadi seseorang. Ketika kita menyebarkannya pun seringkali hanya sekedar meneruskan pesan, bukan dalam maksud untuk membimbing seseorang agar dapat kembali ke jalan yang benar. Bahkan saat penerima pesan menanyakan apa maksud dari renungan itu pun, seringkali kita menjawab, “Tidak tahu, saya kan hanya mem-forward saja.”
Di awal pelayanan-Nya, Yesus mengajak beberapa orang untuk menjadi penjala manusia. Panggilan itu begitu personal karena Yesus menjumpainya satu per satu dan mengajak mereka bercakap-cakap secara pribadi. Panggilan personal itulah yang menggugah mereka untuk bersedia mengikut Yesus dan pada akhirnya benar-benar menjadi penjala manusia yang terus menyerukan berita pertobatan. Panggilan itupun berlaku bagi kita. Jika Tuhan sudah melayani kita sedemikian personal, mengapa kita tidak meneladani-Nya dengan bersedia hadir menyerukan firman Tuhan kepada orang-orang yang membutuhkan? Bukan hanya menyerukan, namun di tengah bisingnya dunia dengan aneka berita yang simpang siur, kita perlu membimbing mereka agar benar-benar memahami arti firman dan mempercayainya. (RKG)