Renungan Minggu

Persembahan Yang Tulus

Seusai ibadah seorang ibu tua sederhana datang ke konsistori meminta pengembalian sebagian uangnya yang dimasukkan ke kantong kolekte karena salah memberi. Seharusnya hanya Rp.10.000, tetapi keliru memasukkan lembaran Rp.50.000,- .Minta pengembalian Rp.40.000,- disertai permohonan maaf karena mendadak kantong persembahan tiba-tiba sudah disodorkan didepannya. Majelis memakluminya.
Beda dengan janda yang dilihat Tuhan Yesus ketika mempersembahkan uangnya di Bait Allah. Janda itu memberi uangnya dua peser, mata uang Romawi yang terkecil nilainya.Yang dalam bahasa Yunani di sebut satu duit. Kita mendapat pelajaran dari Firman Tuhan bagaimana sikap kita dalam memberi persembahan yang tulus untuk Tuhan.:
* Bukan dari yang sudah ada, tetapi dari yang disiapkan khusus untuk Tuhan. Orang kaya memberi dari kelimpahannya, memang uang itu ada, tetapi janda miskin itu benar-benar menyisihkan dari yang paling akhir tersedia untuk hidupnya. Memberi dari kekurangannya merupakan pergumulan diantara berhitung dan beriman. Jikalau Anda diberkati, maka Anda bisa menghitung berapa yang akan diberikan untuk Tuhan. Tetapi jikalau Anda dalam kekurangan, mempersembahkan untuk Tuhan adalah pergumulan iman.
* Mempersembahkan bukan siapa pemberinya, tetapi bagaimana sikap kita dalam memberi.
Makin hidup kita diberkati Tuhan, makin tergoda untuk membuat perhitungan dengan Tuhan. Hati kita akan melekat ke mana? Kepada uang yang kita dapatkan dengan susah payah atau kepada Tuhan yang memberkati kita dengan berkecukupan bahkan berkelimpahan ? Adakah kita memberi persembahan dengan hati yang tulus atau minta agar “ada namaku disebut”.
* Mempersembahkan kepada Tuhan adalah bukti ketaatan iman. Janda di Sarfat didatangi Nabi Elia atas perintah Tuhan untuk mendapat pertolongan melalui persediaan makanan yang dimiliki janda itu. Makanan itu hanya cukup untuk dirinya dan anaknya dan besok sudah tidak tahu apa yang akan dimakan keduanya. Nabi Elia meneguhkan iman janda di Sarfat itu untuk tetap menyediakan makan baginya karena Tuhan yang menunjukkannya ke Sarfat. Maka dibuatlah makanan itu dan diberikan pertama-tama kepada Nabi Elia. Karena ketulusan dan ketaatannya, maka janda itu diberi ganti Tuhan makan sampai beberapa hari ke depannya. Tuhan sanggup menghidupi dari yang sedikit menjadi berlimpah. (AGP)

KETAATAN DALAM MEMPERSEMBAHAKAN UNTUK TUHAN
TIDAK AKAN MEMBUAT KITA KEKURANGAN.
TUHAN TIDAK AKAN BERHUTANG BAGI ORANG YANG BERHATI TULUS.