Renungan Minggu

Perjumpaan Di Tengah Pelarian

Berpisah dari anak yang di kasihi tentu bukan suatu hal yang mudah bagi seorang ibu. Begitu pula dengan Ribka. Namun, Ribka lebih tidak rela bila kehilangan anak dan suaminya pada hari yang sama. Karena itu ia menyuruh Yakub lari dari Esau yang ingin membunuhnya saat hari kematian ayah mereka. Yakub kemudian mematuhi ibunya dan pergi ke Haran setelah diberkati Ishak, ayahnya.

Namun Yakub berjalan menuju Haran juga dalam kegelisahan. Di satu sisi ia ketakutan karena Esau hendak membunuhnya. Di lain sisi ia tentu khawatir dengan ayah dan ibunya. Karena saat itu ayahnya sudah lanjut usia dan tubuhnya telah begitu lemah. Ia pergi dalam kegelisahan, merasa terusir dan sendirian. Dan ingat, Yakub bukan Abraham yang diceritakan sering berdoa dan memberi persembahan pada Allah. Sehingga jangan heran bila Yakub tidak melibatkan Allah dalam persoalan hidupnya. Dalam keadaan itu, Allah berinisiatif menjumpai Yakub melalui mimpi. Ia memberi “tangga” bagi Yakub untuk dapat menyambung relasi dengan-Nya. Allah memperkenalkan diri dan menyatakan janji-Nya pada Yakub. Baru setelah itu Yakub tersadar dan berkata “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.”(Kej. 28:16)

Kita pun mungkin kerap kali mengalami apa yang dirasakan Yakub. Membuat kita memilih lari dari kenyataan, dari keluarga kita, dari rekan sekerja kita, rekan sepelayanan kita, atau orang lain, sama seperti Yakub. Tapi kita tidak bisa lari dari Allah yang mahatahu. Allah tahu sampai kedalaman hati dan pikiran kita. Sehingga Ia tahu bagaimana caranya menjumpai, menguatkan, dan menuntun kita menuju jalan yang terbaik. Yakub yang tersadar akan keberadaan Allah, merasakan pemulihan. Sehingga ia dapat menerima dirinya kemudian mau menyerahkan pergumulannya pada Allah yang berjanji menyertainya menghadapi masa depan. Bagaimana dengan kita? Maukah kita membuka hati kita untuk dipulihkan dan dituntun oleh Allah? – YPP –