Renungan Minggu
Pdt. Ibu Rinta Kurniawati Gunawan

Pergilah Dan Perbuatlah Demikian!

“Berani kotor!” Demikian semboyan dalam iklan sebuah deterjen pencuci baju. Kalimat itu bukan hanya sekedar tulisan yang bermaksud menarik para konsumen deterjen, melainkan disertai dengan contoh-contoh konkret, seperti anak-anak yang bermain dengan lumpur, juga anak-anak yang bersedia mendorong mobil mogok hingga mengakibatkan baju mereka kotor. Meskipun kotor, namun mereka tampak bahagia karena bisa bermain bersama teman-temannya dan melakukan kebaikan bagi orang lain. Ya, kebahagiaan tidak bisa didapatkan hanya dengan memahami sebuah slogan atau ajaran, namun dengan melakukannya; bahkan jika tindakan itu membuat diri kita kotor.
Hal semacam ini agaknya sulit dimengerti oleh seorang ahli Taurat yang datang kepada Tuhan Yesus (Lukas 10:25-37). Meskipun dia mengetahui isi seluruh Taurat, bahkan memahami intinya, yakni mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, namun ia belum bisa melakukannya. Mengapa? Karena ia takut “kotor”. Oleh karena itu Tuhan Yesus menyindirnya dengan mengungkapkan sebuah perumpamaan tentang seorang yang menjadi korban perampokan. Imam dan seorang Lewi yang melihat sang korban dari jauh tidak bersedia mendekat dan memberikan pertolongan karena mereka ingin menjaga dirinya tetap “bersih”. Ada kemungkinan korban itu sudah mati. Jika mereka menyentuhnya maka mereka akan menjadi najis (kotor). Daripada ambil resiko, maka mereka lebih memilih untuk melewatinya ketimbang mempraktekkan ajaran Taurat itu.
Berbeda dengan kedua tokoh agama itu, seorang Samaria yang melihat sang korban justru mendekatinya dan memberikan seluruh pertolongan yang dibutuhkannya. Tuhan Yesus menceritakannya dengan sangat detil, yaitu mulai dari membalut lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, kemudian menaikkannya ke atas keledai si Samaria, membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Dan tentunya membayar seluruh biaya penginapan dan perawatan itu. Semua tindakan itu membuat si Samaria menjadi repot dan kotor. Bagaimana tidak, jika ia harus bersentuhan langsung dengan seseorang yang berlumuran darah?! Setelah ahli Taurat itu memahami maksud perumpamaan tersebut, Tuhan Yesus mengatakan kepadanya, “Pergilah dan perbuatlah demikian!” Perintah itu berlaku pula bagi kita. Jangan hanya tahu dan bicara soal kasih, jangan hanya bisa mengkritisi orang lain yang berbuat salah, tapi pergilah dan perbuatlah kasih kepada setiap orang yang kita jumpai. Teladanilah apa yang telah Tuhan Yesus lakukan selama hidup-Nya di dalam dunia. Tuhan Yesus mengasihi kita semua. (RKG)