Renungan Minggu
Pdt. Juswantori Ichwan

Perempuan Sebagai Pemimpin

Kepemimpinan Kristen (3)
Hakim-Hakim 4:1-7

Saat Fariana Dewi menyatakan minatnya bekerja di Angkatan Udara, orang mencibir: “Mana bisa perempuan jadi pilot?” Tetapi ia maju terus. Setelah ikut rekrutmen, mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan, akhirnya ia menjadi pilot helikopter pertama di TNI AU. Ia membuat banyak orang berdecak kagum.
Seperti itulah Debora dan Yael. Mereka menolak ide bahwa perempuan hanya “mahluk lemah yang perlu dilindungi.” Debora prihatin melihat umat Tuhan ditindas puluhan tahun, namun pasukan Israel pimpinan Barak diam saja. Suatu hari, ia menantang Barak maju berperang. Bahkan ia ikut dalam pasukan! (Hak 4:1-7). Mereka menang. Lalu Yael, Istri Heber, berhasil membunuh panglima tentara musuh dengan cerdik dan keras (Hak 4:17-22). Debora dan Yael bukan figur perempuan feminin. Mereka maskulin, berani, kuat. Tomboy. Lebih mirip tentara ketimbang ibu rumah tangga. Namun Tuhan memakai mereka menjadi pemimpin bangsa, karena mereka berani menjadi diri sendiri dan menuruti panggilanNya.
Banyak perempuan terhambat atau dihambat menjadi pemimpin. Baik karena dilarang suami atau terbentur aturan institusi. Ada gereja yang melarang perempuan menjadi Pendeta. Ada orangtua yang melarang putrinya kuliah di fakultas yang dianggap “tidak pantas bagi perempuan.” Bahkan ada perempuan yang melarang dirinya sendiri menuruti panggilan hidupnya, karena takut di-cap aneh, kurang feminin, atau kuatir akan omongan orang.
Perempuan bisa dipakai Tuhan sebagai pemimpin, sebagaimana laki-laki. Asal ia berani menjadi diri sendiri. Hidup ini cuma sekali. Jangan habiskan waktu untuk hidup seperti orang lain. Jadilah otentik. Ikuti panggilan hidupmu. “Daki tiap gunung.  Arungi tiap sungai. Ikuti tiap pelangi. Sampai tercapai impianmu.” (JTI)