Renungan Minggu

Penebusku Hidup

Jumat, 4 November 2016 dipersiapkan sebagai hari demo besar-besaran di ibukota Indonesia, Jakarta. Banyak orang dari berbagai kota didatangkan ke Jakarta. Sedangkan warga Jakarta sendiri banyak yang memilih untuk meninggalkan kota tersebut, mencari keamanan di tempat lain. Jakarta sempat terlihat lengang, banyak kendaraan absen karena beberapa sekolah diliburkan dan sebagian pekerja memilih untuk cuti. Namun tidak berapa lama, pemandangan segera berubah. Beberapa ruas jalan di Jakarta menjadi lautan manusia yang meneriakkan hal yang sama yakni menuntut menurunkan 1 orang pemimpin yang kesalahannya tidak jelas. Aksi yang awalnya berjalan lancar dan damai, namun ternyata diakhiri dengan kericuhan dan tindakan anarkhis. Hingga membuat bapak presiden harus menggelar konferensi pers pada tengah malam yang menyatakan aksi demo harus segera dihentikan dan rakyat diminta segera pulang ke daerah asalnya masing-masing.
Demo yang ditumpangi oleh isu SARA ini tentu membuat kaum minoritas menjadi kuatir dan takut. Suasana permusuhan yang ditampilkan membuat banyak orang memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi. Sampai kapan Indonesia akan mengalami hal seperti ini? Apakah Tuhan akan diam saja atau akan bertindak?
Kondisi yang serba tidak menentu ini pernah dialami Ayub seorang diri. Begitu banyak penderitaan yang harus dialaminya dan begitu banyak orang yang menyalahkannya. Bahkan istri dan sahabat terdekatnya bukannya memberikan dukungan tapi malah makin menekan batinnya. Kenyataan ini membuatnya bergumul, akankah kondisi bisa berbalik? Apakah Tuhan berkenan berada di pihaknya dan membela haknya? Ayub pun menyampaikan kegelisahan-kegelisahannya di hadapan Tuhan. Hingga akhirnya ia sadar, percuma saja ia berseberangan dengan Tuhan dan menganggap Tuhan sebagai lawannya. Konsep semacam itu justru membuatnya semakin lelah tak berdaya. Di ujung pergumulannya Ayub menyampaikan pengakuan imannya, “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup!” (Ayub 19:25a). Ya, Tuhan adalah Penebus, yakni pihak yang sanggup menyelamatkannya dari kondisi terburuk. Sang Penebus itu hidup, berarti Ia tidak akan diam saja. Dia adalah Pribadi yang senantiasa berkarya untuk membela umat-Nya. Kiranya keyakinan iman seperti inilah yang juga kita miliki di tengah situasi yang kalut dan tidak menentu. Tidak perlu takut dan ragu. Percayalah bahwa Tuhan akan bertindak dan memberkati negeri ini, melindungi dan menyertai kita semua. Mari nyatakan bersama: “Penebusku hidup!!” (RKG)