Renungan Minggu
Pieter Randan Bua

Menyelami Jalan Panggilan Allah

Pernahkah membaca lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan? Coba perhatikan kriteria yang tercatat di sana! Sebagian besar lowongan itu melampirkan kriteria yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar. Misalnya kemampuan khusus yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang dimaksud seperti menguasai komputer, bisa bahasa Inggris, sarjana, dll. Disamping itu ada syarat – syarat lain misal jujur, berintegritas, pekerja keras, komunikatif, bisa bekerja dengan tim, berpenampilan menarik, dll. Singkatnya setiap perusahaan mendambakan calon karyawannya sesempurna mungkin.

Berbeda dengan yang Yesus lakukan, Ia memilih anggota tim-Nya dan orang – orang akan dipakai-Nya justru dari orang – orang ‘bodoh’ dengan karakter yang buruk. Perhatikan kedua belas murid itu semua dari orang – orang yang dianggap ‘nol’ oleh masyarakat saat itu kecuali Yudas Iskariot dari golongan terdidik, tetapi justru dia yang berkhianat. Para murid itu adalah nelayan – nelayan sederhana dari Galilea, daerah yang dianggap kafir dan miskin. Mereka memiliki karakter yang buruk, meledak – ledak dan acapkali bertindak tanpa berpikir. Dalam banyak kesempatan Yesus harus mengulang – ulang pengajaran-Nya untuk membuat mereka mengerti. Acap kali Yesus dibuatnya kesal sehingga keluarlah kata – kata dari mulut Yesus seperti, ‘belum mengertikah kamu, hai kamu yang bodoh, masih degilkah hatimu, mengapa hatimu begitu tumpul dll’ Selain kedua belas murid itu, Paulus sebagai rasul terakhir juga memiliki latar belakang yang buruk. Ia adalah penganiawa jemaat, sakit – sakitan dengan penampilan fisik yang buruk. Paulus sendiri berucap, ‘…aku adalah yang paling hina dari semua rasul’.

Namun pada masanya mereka yang dianggap ‘nol’, bodoh, kafir, berkarakter buruk, tumpul, degil, hina dan penganiaya jemaat itu menjelma menjadi ‘raksasa’ iman yang mengguncangka dunia. Mereka melampaui Guru mereka dalam menempu perjalanan jauh dan melayani orang banyak. Termasuk cara mati mereka ada yang lebih sadis dari cara mati Sang Guru. Di tangan Yesus mereka yang ‘bodoh’ itu berubah jadi penakluk orang – orang terpandang dan berpendidikan. Di tangan Yesus mereka yang tadinya minder dan pemalu berubah jadi orator yang tak mudah ditundukkan. Di tangan Yesus mereka yang tadinya penakut jadi pemberani yang tak takut kepada siapa pun. Di tangan Yesus mereka dapat menanggung segala sesuatunya termasuk menyerahkan nyawa mereka untuk dibunuh dengan cara apa pun.

Sekarang kita dipanggil dalam zaman dan konteks yang berbeda. Ada misteri dalam setiap panggilan Allah pada setiap pribadi. Kita dipanggil untuk tugas dan pekerjaan yang berbeda – beda. Tetapi satu hal yang pasti bahwa mereka yang dipanggil-Nya akan dipakai dan disertai-Nya. Seperti firman-Nya berkata, ‘Aku sekali – kali tidak akan membiarkan engkau dan aku sekali – kali tidak akan meninggalkan engkau’. – PRB