Renungan Minggu
Pieter Randan Bua

Mensyukuri Kemerdekaan Dan Mengapresiasi Negeri

Sejak awal Bangsa Indonesia menyadari bahwa keberadaannya dimungkinkan oleh karena campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itulah alenia ketiga dalam Pembukaan UUD 1945 berbunyi, ‘Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya kehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya’. Kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Bangsa Indonesia itu, disadari terjadi atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.  Kalau Naskah UUD 1945 dipahami  dalam kaitan dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka Tuhan Yang Maha Kuasa ini adalah Tuhan dari, ‘Kami Bangsa Indonesia…”

Secara teritorial, Bangsa Indonesia adalah kelompok etnis yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian Bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang terdiri dari suku bangsa Minang, Jawa, Batak, Dayak, Ambon, Toraja, Bugis, Timor, Asmat, dll. Termasuk pula keturunan Tionghoa, Arab, Belanda, Tamil, dll, yang hidup dan terikat pada suatu daerah tertentu. Semuanya itu pada waktu proklamasi kemerdekaan dilakukan merasakan dirinya harus bersatu di dalam apa yang disebut, ‘Kami Bangsa Indonesia’. Keberanian untuk sampai pada pernyataan ini tidak lepas dari fakta Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dimana tekad untuk menjadi satu bangsa telah diucapkan. Tanggal 28 Oktober 1928 embrio Indonesia dikonsepsikan dan lahir secara resmi 17 Agustus 1945 yang memiliki religiositas yang dirumuskan dalam Tuhan Yang Maha Kuasa.

Berdasarkan kenyataan ini tak berlebihan apa yang diungkapkan Ebenhaezer Nuban Timo bahwa peristiwa 17 Agustus 1945 adalah Pentakosta versi Indonesia karena Allah bekerja dengan cara nyata dari suku bangsa dengan bahasa yang beragam untuk membentuk negara yang menghargai kesetaraan dan mengerjakan kesejahteraan.

Sebagai warga Kerajaan Allah dalam Kristus kita harus bersyukur karena ‘dibuang’ di bangsa ini. Bangsa Indonesia, bangsa di mana kita dilahirkan, hidup, berkeluarga dan dikuburkan. Tuhan melalui Indonesia telah memberikan kesejahteraan untuk kita karena itu hal yang sewajarnya kita lakukan yaitu memberikan apresiasi melalui karya dan bakti kita. Karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan kita dan anak cucu kita. Jayalah Indonesiaku, kau adalah anugerah Tuhan bagi kami. – PRB