Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Menjaga Kualitas Persekutuan

Bergaul tanpa bergosip? Apa mungkin?  Yah, sepertinya gosip merupakan sesuatu hal yang sangat menarik di masyarakat kita, sehingga dengan mudah menjadi lahan empuk untuk dikomersilkan. Lihat saja acara-acara di pagi hari waktu prime time. Sebelum orang memulai aktivitas, disuguhkan dengan beragam berita mengenai berita artis. Siapa artis yang akan menikah, selanjutnya siapakah artis yang akan bercerai? Berlanjut ke siang hari waktu orang akan beristirahat, kembali disuguhi dengan berita artis, dan juga pada sore hari saat orang mulai siap-siap pulang kerja kembali berita tentang gosip artis  ditayangkan. Seperti obat saja yang harus tiga kali dalam sehari, karena gosip ….. di gosok makin sip. Walau bagaimanapun bentuknya, dengan balutan acara menarik atau dengan teknik yang atraktif, gosip tetaplah gosip. Artinya menggunjing. Oleh sebab itu hidup dalam kebersamaan dan menjaga kualitas dalam persekutuan di tengah-tengah budaya gosip yang sudah mendarah daging, bukan merupakan persoalan yang sederhana.
Nilai hidup manusia terletak pada apa yang dipikirkannya, dikatakannya dan apa yang dilakukannya. Manusia yang berpikiran jernih, jujur, peduli pada sesamanya, penuh kasih tentu akan tampak dari apa yang dilakukannya dan dampak yang dihasilkannya. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya membuat kualitas suatu hidup kebersamaan dalam persekutuan menjadi begitu indah. Maka ketika ada di antara individu/ sesama kita yang berbuat dosa atau kesalahan, Yesus mengatakan: “Tegorlah dia dibawah empat mata……Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan……Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.”
Inilah makna sebuah persekutuan yang berkualitas. Namun masih ada satu lagi permasalahan yang harus kita hadapi dalam menjaga hubungan kebersamaan ini yakni kita berhadapan dengan budaya sungkan, suatu keadaan di mana seseorang merasa enggan atau segan untuk menegur atau mengoreksi seseorang. Dan biasanya ketika banyak orang yang memiliki perasaan ini maka muncullah pembicaraan atau pergunjingan di belakang orang tersebut, hingga muncullah apa yang disebut dengan gosip.
Saudara menginginkan relasi dalam kebersamaan dari sebuah persekutuan menjadi berkualitas? Marilah kita bangun sikap hidup yang positif dalam cara berpikir, cara berbicara dengan kepedulian yang didasarkan pada kasih, maka bukan suatu keniscayaan bila suasana surgawi itu ada di tengah-tengah persekutuan kita. (JS)