Renungan Minggu
Pdt. Juswantori Ichwan

Menjadi Sahabat Bagi Yang Hina

Kepemimpinan Kristen (4)
 Matius 25:31-46

Tiap hari anda bekerja dari pagi sampai petang. Malamnya kumpul  bareng keluarga. Tiap Minggu beribadah di gereja. Rutin. Suatu hari anda meninggal. Saat bertemu Tuhan Yesus, Ia berkata: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang terkutuk…sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan… ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku!” Bayangkan: bagaimana reaksi anda? Pasti kaget dan protes! “Lho, Tuhan, koq begitu? Seumur-umur memang saya belum pernah berkunjung ke penjara, memberi makan anak jalanan atau membantu tuna wisma. Tetapi saya ‘kan hidup baik-baik dan beriman? Kenapa dikutuk?”
Ketika Yesus menceritakan Mat 25:31-46, pasti banyak orang Yahudi juga kaget. Tidak menyangka bahwa di pengadilan terakhir, Sang Raja akan menghukum mereka bukan semata karena berbuat jahat, tetapi karena cuwek pada orang yang hina. Kesibukan sering membius kita menjadi cuwek. Lupa bahwa di sekitar kita banyak orang yang menderita karena dipandang hina. Entah karena miskin, mantan napi, terbelakang mentalnya, diolok-olok karena mereka banci, gay/lesbian, dan lain-lain. Sering kita merasa “tidak terpanggil” untuk hadir bagi mereka. Bahkan membangun tembok agar sebisa mungkin tidak bersentuhan dengan mereka. Kita pikir, soal mempedulikan mereka itu tugas pemerintah, pekerja sosial, rohaniwan atau psikolog.
Tetapi Tuhan Yesus ternyata ada di tengah mereka yang hina. “Apapun yang kamu lakukan untuk mereka yang hina, kamu melakukannya untuk Aku,” kataNya. Itu berarti, tiap kita  dipanggil menjadi pemimpin yang pro-aktif.  Berinisiatif menjadi sahabat bagi orang yang dipandang hina. Menemani, bukan menghakimi. Itulah panggilan tiap Kristen. Limpahnya berkat Tuhan baru anda rasakan, jika itu anda jalankan. (JTI)