Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Meninggalkan Jalan Kefasikan

Pernahkah saudara sebagai orang beriman merasa bingung hidup dalam situasi zaman sekarang ini ? Bingung karena melihat orang yang katanya tahu tentang Tuhan tetapi sebenarnya yang menjadi ‘tuhan’ dalam hidupnya dan yang dia sembah adalah dirinya sendiri. Tahu tentang kebenaran, namun sengaja tidak mau taat. Mungkin kita juga bingung ada orang yang kelihatannya bukan orang yang ateis, tetapi ia hidup seolah-olah Allah tidak ada, tidak melihat, dan tidak akan menuntut pertanggungjawaban atas hidupnya. Dan mungkin masih banyak kebingung yang lain yang saudara lihat dalam kehidupan ini dimana antara iman dan perbuatan tidak sesuai bahkan bertolak belakang. Sebetulnya saudara tidak perlu bingung karena apa yang saudara lihat dari sikap hidup orang yang demikian itulah yang disebut sebagai orang fasik. Orang fasik adalah orang yang tidak sungguh-sungguh menjalankan hidup keagamaannya. Orang yang tidak mengindahkan perintah Tuhan (Fasik: Ibr, Rasya= tidak taat / menyimpang dari hal yang seharusnya). Bahkan orang fasik, mereka tidak takut akan Allah, tidak perduli pada sesama pada yang menderita atau membutuhkan pertolongan. Mereka lebih senang mencibir dan mencemooh orang daripada bergerak memberikan bantuan. Orang fasik di satu sisi juga dipenuhi karakter yang kurang baik, salah satunya mereka sangat egois dan tinggi hati. Hanya mementingkan kepentingan diri sendiri dan tidak peduli akan keperluan orang lain. Dan yang jelas bahwa hidup orang fasik tidak menghasilkan buah-buah Roh Kudus.

Berbahagialah jikalau saudara merasa bingung, karena dengan demikian saudara masih mempunyai hati nurani, dimana saudara masih mendengarkan Allah berbicara melalui Roh Kudus untuk melihat ketidak sesuaian hidup orang percaya dalam hidup. Dengan demikian kebingungan dan kegelisahan saudara sekaligus menjadi ‘alarm’ yang mengingatkan kita untuk menjauhi bahkan meninggalkan jalan kefasikan. Alarm tersebut membawa kita untuk merenung seberapa sering kita berpikir tentang Allah dan kehendak-Nya dalam menjalani hidup? Atau juga kita bisa melakukan banyak hal yang baik tanpa memikirkan Allah sama sekali. Kita jarang berpikir tentang tanggung jawab kita kepada Allah dalam bekerja. Kita merasa cukup baik karena tidak melakukan dosa-dosa besar. Kita tidak tertarik membangun relasi yang intim dengan Allah. Dalam derajat tertentu, kita pun bisa berlaku fasik sehingga pola pikir dan perilaku kita tidak banyak berbeda dengan orang-orang yang belum mengenal Allah. Kefasikan memberi ruang bagi dosa-dosa untuk bertumbuh. Telah menjadi fasikkah kita ? Segera tinggalkan hidup yang penuh dengan kefasikkan, karena orang fasik tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan sorga. (JS).