Renungan Minggu

Mengisi Kemerdekaan

Betapa menyakitkannya menjadi orang yang tertindas. Karena itulah Yesus datang untuk sebuah pembebasan. Saat pertama kali membacakan Firman Tuhan di depan umum, Ia memulai dengan nubuat yang digenapi-Nya. …Ia telah mengurapi Aku… untuk memberitakan pembebasan bagi orang-orang tawanan (Luk 4:16). Kata-Nya pula, Ia datang untuk menjatuhkan ‘penguasa dunia ini’ dan untuk membebaskan tawanan-tawanannya (Yoh 12:31). Awalnya Ia datang hanya kepada ‘domba-domba’ yang hilang dari Israel, tetapi iman ‘anjing-anjing’ diluar Israel menariknya beralih. Betapa menyakitkannya disebut ‘anjing’ sebutan orang Israel bagi orang yang dianggap kafir. Tapi Yesus hadir mengobati kesakitan itu. Karena imannya perempuan ‘kafir’ ditolong oleh Tuhan. Permohonannya dikabulkan dan anaknya disembuhkan. Ia dimerdekakan dari stigma kafir.
Sikap Yesus yang memerdekakan orang-orang yang terbelenggu oleh budaya yang tidak manusiawi dan tawanan iblis karena dosa, seharusnya menjadi cermin bening bagi gereja masa kini. Orang-orang percaya yang telah dimerdekakan dari perbudakan dosa harus mengisi kemerdekaan itu. Kemerdekaan Kristen adalah kemerdekaan untuk kasih dan pelayanan kepada Allah dan manusia. Tidak melakukan hal itu berarti penyalahgunaan kemerdekaan dan sikap tidak bertanggung jawab.
Seiring dengan itu, kemerdekaan yang diperoleh bangsa kita seharusnya kita isi dengan pelayanan kepada Allah dan manusia. Seyogianya, gereja hadir membawa pembebasan bagi mereka yang ditawan kemiskinan, ketidakadilan, penyakit dan keterpurukan lainnya. Dalam pemaknaan Dr. Alec Vidler, gereja memiliki jati diri ‘ganda’. Di satu pihak dipanggil dari dunia sebagai umat yang kudus untuk menjadi milik Allah, tetapi juga umat ‘duniawi’ dalam arti orang yang diutus kembali ke dalam dunia untuk bersaksi dan melayani. Benhoeffer menyebutnya sebagai ‘keduniawian yang saleh’. Gereja tak boleh terjebak dengan menitikberatkan ‘kekudusannya’ tetapi undur dari dunia. Selamat mengisi kemerdekaan kita. – PRB