Renungan Minggu

Memakai Uang Secara Bertanggung Jawab

‘Kita tidak boleh diperbudak oleh uang tetapi uanglah yang harus menjadi budak kita’ nasehat Indra Purnama kepada Ahok anaknya. Hal ini diungkapkannya karena melihat banyaknya penyelenggara negara di negeri ini yang akrab dengan korupsi dan suap.
Korupsi memang telah akrab dengan manusia selama berabad-abad. Alkitab banyak mencatat tentang perilaku tak terpuji itu. Tidak mengherankan jika, Yesus menggunakannya dalam mengajar murid-murid-Nya. Salah satunya adalah bendahara yang tidak jujur. Bendahara dalam perumpamaan ini sepertinya bertugas menangani sewa-menyewa harta milik tuannya. Belakangan ketahuan bahwa bendahara ini suka, ‘menghamburkan’ kekayaan tuannya. Akibatnya sang tuan memecatnya. Itulah titik balik perubahan hidupnya. Agar masa depannya tidak terancam, strategi muncul dibenaknya. Bekerja keras (mencangkul) atau kerja enak (mengemis). Tapi dua-duanya bukanlah pilihan menarik. Bekerja keras melelahkan dan mengemis memalukan. Lalu ia membuat keputusan besar dan cerdik: ia bermaksud meninggalkan mamon.
Sepertinya bendahara ini sebelumnya adalah hamba uang. Ia menetapkan bunga yang tinggi demi keuntungan dirinya sendiri. Karena itulah ketika ia merubah utang orang-orang yang berutang itu lebih rendah, tuannya tidak rugi. Namun ia tak lagi memperoleh keuntungan materi dari bunga itu tetapi digantikan dengan persahabatan dari orang-orang yang dikurangi utangnya itu. Pengurangan itu membuat mereka yang berutang pasti bergirang dan sangat berterima kasih kepadanya. Tak ayal tindakannya itu mendapat pujian tuannya karena tindakannya itu bukanlah tindakan ilegal. Bendahara itu hanya menghapus ‘jatah’ untuk dirinya sehingga orang-orang itu membayar utang dalam jumlah yang semestinya. Bendahara itu tak lagi diperbudak oleh mamon yang tidak jujur (dikatakan tidak jujur karena selalu menggoda manusia menjadi hambanya). Sebaliknya mengubahnya sebagai alat membangun persahabatan dengan mereka yang berutang itu. Artinya bendahara itu tidak lagi diperhamba oleh uang untuk berbuat kejahatan tetapi menjadikan uang sebagai hambanya untuk berbuat kebaikan.
Bagaimana dengan kita?  Ingatlah bahwa semua hal yang kita miliki adalah milik Allah. Kita hanyalah penatalayan. Kita akan kembali kepada-Nya tanpa membawa apa-apa. Akan tiba saatnya kita berdiri di hadapan Tuhan, dan Ia akan mengaudit hidup kita. Ia akan menuntut kita mempertanggung jawabkan semua kepecayaan itu. Karena itu, Cerdiklah sebagai anak-anak Terang dan gunakanlah uang kita secara bertanggung jawab. – PRB