Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Melepas Kemelekatan

Menurut saudara dimanakah letak harga seorang manusia ? Pada kepribadiannya….atau pada apa yang dimiliki olehnya, harta kekayaannya, pangkat dan jabatannya, titelnya serta yang lainnya yang dalam ukuran dunia menjadi syarat bagi seseorang cukup untuk dihargai.  Mungkin kita akan menjawab bahwa harga manusia terletak pada harkat dan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan. Benar sekali jawabannya…….namun dalam kenyataannya ketika kita hidup dalam dunia, justru harga seorang manusia justru ada terletak pada harta kekayaan, jabatan dan lain-lainnya tadi. Oleh sebab itu jangan heran bila manusia berlomba-lomba untuk mencari dan memiliki sebanyak-banyaknya harta serta setinggi-tingginya jabatan dan kekuasaannya. Karena pada titik inilah seseorang merasa terlindungi, terselamatkan, terpandang, dihormati, dihargai oleh orang lain. Hingga akhirnya manusia melekat pada ukuran-ukuran duniawi tersebut dan tidak mau melepaskan apa yang ada padanya. Dan celakanya dalam masyarakat telah terbangun pola dan cara pandang yang demikian. Manusia tidak lagi dilihat dan dihargai sebagai APA ADANYA tetapi karena ADA APANYA.

 

Kondisi yang seperti inilah yang membuat Tuhan Yesus berkata kepada orang banyak yang mendengarkannya: ….” Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”  Mengapa Yesus berkata demikian ? Karena pada dasarnya ketika seseorang melekatkan dirinya pada kepemilikannya, maka dia akan mempertahankan miliknya dan tidak dapat memberikan dirinya bagi yang lain. Ketika seseorang melekat pada miliknya, ia akan membangun hidup bersama dengan mereka yang ADA APANYA yang dalam ruang lingkup eksklusive saja. Kemelekatan juga membatasi cakrawala pandang kita, dimana sesungguhnya seseorang dapat melihat hal yang lebih indah, lebih penting, lebih berharga dari sekedar apa yang dimiliki. Bahkan kemelekatan dapat melumpuhkan kepekaan, nurani dan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya membuat hidup ini menjadi indah. Akhirnya kemelekatan membawa kita pada tekanan batin yang bermuara pada kekosongan batin yang paling sepi. (JS)