Renungan Minggu
Pieter Randan Bua

Kristus Yang Bangkit Tak Membedakan Orang

Nelson Mandela lahir di Feso 18 Juli 1918 dan wafat 5 Desember 2013 di Johannesburg Afrika Selatan. Ia adalah pejuang apartheid yang berkali-kali dijebloskan ke penjara. Tetapi perjuangannya yang gigih mengantarnya menjadi presiden kulit hitam pertama di negaranya. Mandela adalah obor kebenaran dari Benua Hitam Afrika. Menurut pengakuannya bahwa inspirator utamanya adalah Kristus dari Nazaret. Mandela berkata, ‘di hadapan Tuhan tak ada kulit hitam atau kulit putih, kaya atau miskin, budak atau tuan, perempuan atau laki-laki. Manusia semuanya sama.’ Mandela mengubah Afrika dan menginspirasi dunia melalui perjuangannya melawan diskriminasi yang membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulitnya. Ia berjuang tanpa kekerasan melainkan dengan kasih.
Mandela telah pergi tapi diskriminasi masih tetap ada. Menginjak-injak kemanusiaan menghembuskan angin perpecahan. Di Indonesia angin diskriminasi itu masih berhembus dengan kencang. Isu rasial masih menjadi ‘pemuas jiwa’ kelompok-kelompok tertentu, berkali-kali dikumandangkan demi menekan kelompok-kelompok yang dianggap mengancam eksistensi mereka. Hembusan angin diskriminasi tak hanya merasuk masyarakat umum tapi juga institusi yang dilabel agama. Termasuk juga institusi gereja.
Lalu apakah harus demikian? Petrus berkata, ‘Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang… Ia adalah Tuhan dari semua orang dan Firman-Nya untuk damai sejahtera’. Maria Magdalena dari Magdala suatu desa di Galilea dihuni oleh non – Yahudi yang dibenci oleh orang-orang Yahudi tetapi Yesus peduli kepadanya. Kornelius sang perwira kafir dari Kaisaria yang juga dianggap kafir tapi Tuhan mengutus Petrus kepadanya. Paulus, pemuda yang berapi-api menganiaya jemaat Tuhan dan menyetujui pembunuhan Stefanus tetapi Allah menjumpainya dalam perjalanannya ke Damsik. Ia bahkan dipakai Allah untuk menyatakan kuasa dan kepedualiaan-Nya bagi orang-orang bukan Yahudi.
Jadi, jika Allah tak membeda-bedakan orang, mengapa kita justru sering melakukan sebaliknya? Jangan-jangan kita bukanlah pengikut Yesus yang sejati. Sebab pengikut Yesus yang sejati pastilah tak membeda-bedakan orang terutama dalam memberitakan kabar baik. -PRB-