Renungan Minggu

Kebangkitan-Nya Memberikan Damai Sejahtera

Pada Juli 2013, kami berkesempatan berwisata ke Pulau Karimunjawa. Kami merencanakan liburan selama tiga hari. Namun pada hari kedua, muncullah pengumuman bahwa seluruh wisatawan tidak bisa kembali ke Pulau Jawa esok hari karena gelombang laut sedang tinggi. Mau tidak mau, kami harus memperpanjang keberadaan di sana. Pada hari ketiga dan keempat kami menerima berita yang sama, bahwa kami belum bisa pulang karena ombak masih cukup tinggi. Seluruh penduduk dan wisatawan semakin gelisah. Kami pun gelisah. Sampai kapan harus tertahan dan terisolir di sana. Sedangkan pasokan makanan dan bahan bakar semakin menipis, karena tidak ada kapal yang bisa menyeberang dari dan ke Pulau Jawa. Pada hari kelima, kami pun mengadakan persekutuan doa. Kami memuji Tuhan dan berdoa, menyerahkan segala kekuatiran yang ada serta menaruh harap kepada-Nya. Di situ kami benar-benar merasa sebagai makhluk yang lemah, tanpa daya. Hanya Tuhanlah yang menjadi andalan kami. Selesai berdoa, hati kami pun lega. Kekuatiran itu perlahan sirna, digantikan dengan damai sejahtera dan pengharapan. Sekitar dua jam setelah itu, terdengar pengumuman bahwa esok hari akan ada kapal feri yang akan mengangkut para wisatawan untuk kembali ke Pulau Jawa, karena tinggi gelombang sudah mulai menurun. Betapa bersukacitanya kami atas kebesaran kuasa dan anugerah Tuhan bagi kami semua!
Ketakutan dan kegelisahan yang lebih besar dirasakan oleh para murid setelah kematian Tuhan Yesus. Mereka takut menghadapi orang-orang Yahudi yang menuduhnya mencuri mayat Yesus. Bahkan kini mereka harus berjuang sendiri, tanpa Guru yang biasanya membimbing mereka. Tidak ada pilihan lain kecuali sementara bersembunyi dalam ruangan tertutup, menunggu sampai situasi aman bagi mereka. Namun Yesus tidak tinggal diam. Ia sangat memahami kegelisahan para murid dan tidak menyalahkan mereka atas perasaan tersebut. Dengan lembut Ia datang menjumpai mereka dan menyampaikan sapaan hangat, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20 : 19, 21, 26). Sampai tiga kali kalimat tersebut diulang menandakan betapa besar kegelisahan para murid, sekaligus betapa seriusnya Tuhan ingin menolong mereka. Damai sejahtera yang diberikan oleh Tuhan itu membangkitkan semangat para murid dan memberikan kehidupan baru. Mereka siap diutus sebagai para rasul yang berani memberitakan Injil dengan segala resiko. Saat inipun Tuhan yang telah bangkit masih terus bekerja memberikan damai sejahtera untuk memulihkan setiap jiwa yang sedang gelisah.  (RKG)