Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Janji Yang Mengiringi Jalan Penderitaan

Pragtisme, Materialisme, Hedonisme adalah roh zaman kini yang dilahirkan oleh Globalisasi. Pragmatisme adalah sebuah paham yang mementingkan sisi praktis dibandingkan sisi manfaat, dengan kata lain pragmatisme lebih mementingkan hasil akhir daripada nilai nilai moral yang dianut masyarakat atau bisa dibilang bahwa pragmatime menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Materialisme adalah pandangan hidup yang semata mata hanya mencari, kesenangan, dan kekayaan/ kebendaan merupakan satu-satunya tujuan atau nilai tertinggi. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Pengertian hedonisme hampir serupa dengan materialisme tetapi hedonisme lebih menuju kepada penghamburan materi, berpesta pora, menjalani hidup sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Paham-paham tersebut diatas tanpa disadari telah mengungkung kita untuk hidup dalam kesenangan dan menolak mentah-mentah penderitaan, bahkan penderitaan menjadi musuh yang harus dienyahkan dan dibuang jauh-jauh sebelum ia menggoyang kenyamanan dan kenikmatan hidup. Jadi jangan heran apabila hidup keagamaan dan keimanan manusia modern selalu mencari yang enak dan yang menyenangkan. Bila perlu beriman tanpa harus berkorban atau menderita, bahkan kalau perlu beriman selalu dekat dengan kelimpahan dan kesuksesan. Apakah begitu kira-kira iman dan agama yang kita anut ?

Rasanya Yesus yang kita imani tidak pernah memberikan keteladanan yang sedemikian, justru sebaliknya Yesus mau menunjukkan kepada para pengikutnya bahwa jalan yang ia tempuh adalah jalan penderitaan yang bermuara di Yerusalem dimana Ia akan segera ditangkap, diadili dan disesah. Di Yerusalem Yesus akan mengakhiri pelayanan-Nya. Di kota suci itu Ia akan ditolak, diolok-olok, disiksa dan jatuhi hukuman salib. Yesus tahu betul bahwa jalan yang ia tempuh adalah jalan yang membawa manusia kepada kebebasan dan keselamatan. Yesus sadar betul apa yang sedang Ia kerjakan, karena itulah penggenapan janji dari karya penyelamatan sang Allah Bapa. Oleh karenanya Yesus memperjuangkannya, menjalaninya, setia dan taat pada jalan yang harus ditempuhnya. Hanya ironis manusia yang diperjuangkan untuk keselamatan yang diterimanya justru menolak akan kasih sayang Allah. Adakah saudara adalah bagian dari mereka yang menolak karya penyelamatannya hanya karena saudara takut untuk mengikuti jalan penderitaan yang akan dilalui ? (JS)