Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Jalan Ketaatan VS Jalan Pintas

Rasanya fenomena jalan pintas bukan lagi merupakan hal yang baru di negri ini, bahkan sejak jaman dulu jalan pintas sudah menjadi sikap mental manusia. Buktinya menurut antropolog Koentjaraningrat (1974), jauh sebelum jaman kemerdekaan budaya jalan pintas itulah yang membuat adanya perilaku koruptif dari seseorang yang mengejar sesuatu jabatan atau kekayaan. Apalagi dengan perkembangan zaman yang dikuasai roh materialisme dan hedonisme ditambah dengan tehnologi yang membuat segala sesuatu menjadi instan, maka lengkaplah tawaran yang memenuhi hawa napsu manusia untuk menikmati kehidupan dengan mudah tanpa susah payah. Akibatnya dalam kehidupan masa kini yang nyata terjadi disekitar kita adalah ketika orang ingin mendapatkan pekerjaan, mendapatkan ijin, ataupun surat-surat penting dan lain sebagainya, orang tidak segan-segan menyogok dengan uang. Keberhasilan dan kesuksesan dicapai dengan cara-cara yang kotor tanpa usaha dan kerja keras. Tidak mengherankan apabila korupsi dan suap tidak mudah untuk dibabat karena sudah berurat akar. Mentalitas manusia menjadi yang manja dan cenderung mengabaikan dan mengorbankan orang lain demi mencapai keinginan pribadi. Dan sikap yang demikian ini menurut Mahatma Gandhi menghasilkan 7 dosa soaial yakni: Kekayaan tanpa kerja; Kenikmatan tanpa suara hati; Pengetahuan tanpa karakter; Bisnis tanpa moralitas; ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan; Agama tanpa pengorbanan dan Politik tanpa prinsip.

 

Dan bagaimana dengan jalan ketaatan….? Sangat tidak populer dan banyak dihindari orang karena sudah pasti jalan itu sempit dan berliku harus dicapai dengan susah payah. Mau sukses harus kerja keras dan disiplin, tidak ada kamus bim salabim. Jalan ketaatan adalah jalan dimana orang harus memahami dan menjalani suatu proses melalui tahapan-tahapan dengan taat, tekun serta setia. Tidak banyak orang yang berada pada jalan ini dan Yesus dalam kerangka mencapai tujuan karya penyelamatan terhadap manusia, bukan jalan pintas yang diambil oleh Yesus meskipun Yesus penuh dengan kuasa dan mampu melakukan apa saja. Tawaran iblis yang menawarkan kemudahan dengan pesonanya tidaka sedikitpun membuat Yesus bergeming pada komitmen pribadiNya.  Dia tahu bahwa dibalik jalan pintas itu ada jerumus yang mengakibatkan gagalnya rancangan karya agung penyelamatan manusia.

Bagaimana dengan kita selaku orang percaya, jika diperhadapkan dengan 2 pilihan di atas. Jalan ketaatan atau jalan pintas ? Rasanya dengan tekad dan keasadaran yang ada, rasanya ingin tetap berpegang teguh pada jalan ketaatan….tetapi bagaimana yaa…., soalnya jalan pintas kelihatannya juga lebih menggiurkan. (JS)