Renungan Minggu
Pdt. Ibu Rinta Kurniawati Gunawan

Ia Yang Mengendarai Keledai

Kendaraan yang kita tumpangi akan menentukan status kita di masyarakat. Benarkah? Bisa jadi demikian. Manusia dapat mudah menilai sesamanya berdasarkan kepemilikan yang terlihat. Misal berapa kendaraan dan apa jenis kendaraan yang dimilikinya, berapa rumah dan seberapa luasnya, berapa jumlah tas dan apa merknya, dan lain-lain dapat menuntun orang untuk menaksir kekayaan dan kedudukan sesamanya. Maka tak heran ada banyak orang berlomba-lomba memiliki barang-barang mewah agar statusnya di masyarakat dapat meningkat; tidak peduli apakah cara mendapatkan barang-barang itu dengan kredit atau korupsi, yang penting secepatnya ia bisa memilikinya.

Yesus pun memilih kendaraan-Nya, bahkan dengan spesifikasi yang sangat detil. Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk mencari keledai muda yang belum pernah ditunggangi orang (Luk 19:30). Diantara sekian banyak pilihan, mengapa ‘kendaraan’ itu yang dipilih Yesus?

  1. Yesus hendak menggenapi apa yang dinubuatkan dalam Zakharia 9:9, “Bersorak-sorailah dengan nyaring, hai puteri sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”
  2. Yesus memang akan menjadi Raja, seperti yang diungkapkan-Nya dalam sebuah perumpamaan di perikop sebelumnya, Lukas 19:11-27. Namun juga sebagaimana yang tertulis dalam Zakharia 9:10, Yesus datang bukan untuk melakukan peperangan secara fisik yang seringkali digambarkan dengan penggunaan kuda yang berlari cepat, melainkan Yesus hadir untuk membawa damai. Kecepatan keledai sangat bertolak belakang dengan kuda. Ditambah lagi keledai yang dipilih Yesus adalah yang belum pernah ditunggangi orang, berarti keledai ini belum berpengalaman. Bisa Anda bayangkan, berapa ‘kelambatan’ jalannya!

Figur inilah yang ingin ditampilkan oleh Yesus: seorang Raja yang hadir untuk membawa damai. Mendamaikan manusia dengan Allah dan dengan sesamanya melalui pengorbanan-Nya sebagai Anak Domba Allah. Untuk itulah Ia mengendarai keledai. “Kendaraan” macam apa yang ingin kita tunggangi? (RKG)