Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Hidup Pelayan Pendamaian

Dalam liturgi GKI yang setiap minggunya kita lakukan bersama, ada bagian dimana anggota jemaat saling berjabatan tangan seraya mengucapkan ‘Damai Kristus Bersertamu’. Sebetulnya apa makna dibalik dari sebuah aktivitas liturgi yang dilakukan bersama ? Tentunya setiap orang yang saat itu berbakti menerima suatu berita pengampunan atas dosa yang terjadi dalam hidupnya. Pengampunan tersebut tentulah membawa suatu sukacita tersendiri serta perasaan damai, karena ia sudah terbebaskan dari ikatan dosa. Sama seperti bangsa Israel yang telah dibebaskan Allah dari perbudakan di Mesir.
Dalam perjanjian Baru, pengampunan itu juga digambarkan oleh Yesus dengan perumpamaan anak yang hilang yang kemudian telah kembali. Pengampunan dan keselamatan yang dialami oleh si anak bungsu membawa suatu sukacita dan damai yang tidak terhingga, sehingga damai dan sukacita itu juga menyebar ke seluruh isi rumah.

Dengan landasan pengampunan yang membawa sukacita dan damai yang diberikan Allah kepada manusia, maka sesungguhnya setiap orang yang menerimanya, sudah selayaknya membagikan damai itu kepada orang lain dengan menjadi PELAYAN PENDAMAIAN. Menjadi pelayanan pendamaian tentu bukan persoalan yang mudah. Setiap pribadi harus benar-benar mengerti dan menyadari bahwa hidup mereka hanya semata-mata oleh karena pengampunan. Dan dengan pengampuanan yang mereka miliki, maka tentu mereka dapat memberikan damai itu bagi orang lain (Damai Kristus Besertamu). Orang yang dapat memberikan damai bagi orang lain adalah orang yang memiliki hati yang murni, hati yang penuh dengan rasa syukur, hati yang terlepaskan dari perasaan benci dan dendam, hati yang tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya, yang menerima seseorang apa adanya seperti sang Bapa menerima kembali si bungsu yang terhilang.

Persoalannya adalah apakah hidup orang kristen telah menjadi pelayan pendamian itu ? Sayangnya pelayan pendamaian seakan hanya menjadi ritus saja, yang hanya terjadi dalam perayaan-perayaan ibadah (liturgi), namun tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Diluar gereja/ibadah, yang dibawa adalah perseteruan, percideraan, hidup kefasikan dan sikap menyakiti hati sesama. Sudahkan kita mencontoh sikap dari sang Bapa dalam perumpamaan anak hilang, atau lkita menjadi si sulung yang selalu bersungut-sungut atas pengampunan Allah yang membawa kehidupan dan sukacita damai sorgawi. (JS)