Renungan Minggu

Gereja Dalam Keluarga, Keluarga Dalam Gereja

“Gereja bukanlah gedungnya dan bukan juga menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya. Gereja adalah orangnya.” Demikian bunyi lagu rohani anak sederhana yang menyatakan bahwa gereja itu adalah orangnya. Setiap orang percaya mengambil bagian dalam tubuh dan darah Kristus sehingga dipersatukan dalam satu keluarga Allah. Keluarga Allah pun terdiri dari banyak keluarga, sebagai institusi terkecil yang bisa menjadi perwakilan gereja dalam lingkup masyarakat.

2 Timotius 1:1-12 merupakan surat Paulus kepada Timotius untuk memberi kekuatan kepadanya yang sedang mengalami tekanan dari pihak orang yang tidak percaya. Paulus mengingatkan dalam keadaan yang tidak mudah tetaplah setia mengikuti kehendak Allah. Seperti teladan iman yang telah Timotius dapatkan dari neneknya, Lois dan ibunya, Eunike. Timotius pun diharapkan bisa menjadi pemimpin bagi umat Allah yang sedang mengalami tekanan bahkan penganiayaan. Keluarga memberikan kekuatan dan teladan bagi Timotius untuk tetap setia di dalam Allah. Timotius sebagai bagian dari keluarga Allah dipakai Allah untuk menguatkan dan memberikan teladan kepada gereja untuk tetap setia kepada Allah.

Keluarga merupakan institusi yang diciptakan oleh Allah untuk membangun kehidupan persekutuan yang baik sehingga setiap anggota keluarga dapat tetap bertumbuh ke arah Kristus di tengah tantangan zaman ini. Untuk mencapai hal tersebut, setiap anggota keluarga perlu memiliki kemauan untuk berperan aktif dalam kehidupan bergereja, baik dalam hal bersekutu, bersaksi, dan melayani sehingga gereja dapat terus bertumbuh di tengah tantangan zaman. Peter Scazero dalam bukunya yang berjudul “Emotionally Healthy Spirituality” menuliskan bahwa relasi kita dengan Allah dan manusia adalah dua sisi dari koin yang sama. Kontemplasi yang merupakan kesatuan kasih kita dengan Allah seharusnya menghasilkan kesatuan kasih kita dengan orang lain. Relasi dengan Allah akan menuntun manusia pada kesehatan emosi. Kesehatan emosi membuat manusia yang berdosa bisa melihat sesama manusia sebagai makhluk yang layak untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik karena sesama manusia diciptakan serupa dengan gambar dan rupa Allah. Ketika manusia bisa menjadi seorang yang memiliki relasi yang baik dengan Allah, ia bisa menguatkan dan dikuatkan oleh keluarganya. Setiap pribadi dalam keluarga dapat menguatkan dan dikuatkan lewat komunitas yang lebih luas lagi yaitu gereja yang merupakan satu dalam Keluarga Allah.  (ENTS)