Renungan Minggu
Pdt. Ibu Helen Aramada

Face It!

Jangan lari dari masalah

Mana yang lebih sering kita lakukan: menghadapi, atau lari dari masalah? Menghadapi masalah bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Saat masalah besar terjadi, saat ada perasaan terancam, saat seseorang mulai menghitung-hitung dan menyimpulkan bahwa ia tidak cukup kuat untuk menghadapi pihak yang menyudutkannya – dalam situasi-situasi seperti itu tidak jarang orang lebih mencari cara untuk lari dari masalah. Kecenderungan ini sedikit banyak juga didukung oleh dunia kita yang menyediakan banyak pilihan untuk “melarikan diri” dari masalah; hal-hal yang merusak diri tapi banyak dilakukan orang karena ingin tidak lagi memikirkan masalahnya. Sebuah pertanyaan penting di sini: apakah masalah kita bisa selesai kalau kita lari darinya? Sebuah persoalan harus dihadapi. Jika kita lari dari masalah, mungkin kita merasa lega karena kita tidak lagi berhadapan dengan orang-orang yang tidak kita sukai. Tetapi sesungguhnya masalah itu masih tetap ada selama kita tidak menyelesaikannya. Suatu ketika kita bertemu kembali, perasaan kita bisa menjadi tidak tenang lagi, karena memang kita belum pernah menyelesaikannya.

Terkait dengan tema keluarga, bagaimana jika ada persoalan relasi di tengah keluarga kita? Lari jugakah kita, atau beranikah kita menyelesaikannya? Kisah Esau dan Yakub yang kita baca hari ini menceritakan betapa bencinya Esau terhadap Yakub, bahkan ia sudah mempunyai rencana untuk membunuh Yakub. Lagi-lagi Ribka berperan di sini, ia mendengar niat Esau untuk membunuh Yakub maka ia menyuruh Yakub untuk lari ke rumah Laban, saudara Ribka. Dan Yakub pun lari ke Haran, ke rumah Laban. Menariknya kisah ini, pelarian Yakub ini bukan satu-satunya pelariannya dari masalah. Setelah sekitar dua puluh tahun lamanya Yakub berada di rumah Laban dan mendapatkan ternak dan juga mendapat isteri anak-anak Laban, suatu hari ia pun lari lagi dari rumah Laban, dengan membawa harta dan isteri-isterinya (31:20-21). Yakub ingin berjumpa dengan Ishak, ayahnya, namun ia pergi diam-diam karena takut kalau-kalau Laban tidak mengijinkan anak-anaknya (isteri-isteri Yakub) pergi bersamanya.

Menghindari atau lari dari masalah bukanlah sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Yang kita perlukan adalah menghadapinya dengan berani, dengan hikmat Tuhan. Maka mulai hari ini kita mau belajar untuk bersandar kepada Tuhan dalam setiap penyelesaian persoalan, agar kita dikuatkan menjadi orang-orang yang berani menghadapi dan menyelesaikan masalah, bukan lari darinya; agar kita pun menjadi agen-agen pembawa damai Allah di tengah keluarga kita. (HAS)