Renungan Minggu
Pdt. Jerdi Stevan

Dimampukan Namun Tidak Dimanjakan

Disadari ataupun tidak sesungguhnya kita sedang hidup dan bertumbuh di tengah-tengah generasi manja. Dan generasi manja ini adalah hasil dari produk kita sebagai orangtua dan juga konsekwensi dari berkembangnya tehnologi.
Seorang psikolog dari Australia Dr. Carr-Greh pernah mengutarakan generasi manja yang merusak perilaku anak disebabkan oleh karena 5 sikap dari orang tua, yakni: pertama, orang tua kekurangan vitamin N, tidak mampu mengatakan tidak alias NO kepada anak-anaknya. Kedua, orangtua yang terlalu berperasaan halus, yang penuh kendali. Mereka ingin melunakkan anak-anak mereka dengan memberikan banyak cinta, perhatian dan pemantauan serta pengawasan sehingga anak-anak mereka tidak akan pernah mampu mengembangkan kemandirian dan juga tidak mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri di kemudian hari. Ketiga, banyak kebijaksanaan di sekitar pengasuhan, yang berasal dari kakek-nenek. Keempat, orangtua tidak berbuat apa-apa karena mereka takut dipandang sebagai orangtua yang buruk. Dan kelima, banyak orangtua yang bersikap infantilizing (memperlakukan anak-anak sebagai sosok yang tidak memiliki kemampuan dan belum dewasa) sehingga membuat mereka tidak memiliki kemampuan. Sebagai salah satu contohnya, dapat saudara perhatikan ketika banyak anak yang dijemput di sekolah semua barang bawaannya dibawa oleh orangtua atau pengasuh, sementara si anak asyik jalan lenggang-kangkung sembari menyamil makanan ringan.
Demikian juga dengan tehnologi, konsekwensi inilah memudahkan dan memanjakan manusia namun membuat manusia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bergantung pada tehnologi. Bagi orang-orang tertentu, satu jam tanpa koneksi internet barangkali lebih menyiksa ketimbang seharian tidak makan. Lima menit tanpa handphone mungkin lebih menyusahkan ketimbang seharian tidak minum.
Kisah laut Teberau adalah gambaran yang ingin ditunjukan pada kita sebagai orang percaya bahwa Allah sedang membentuk manusia menuju suatu mentalitas baru, keluar dari zona nyaman dan mau tidak mau harus masuk menghadapi padang gurun yang keras. Allah memampukan bangsa Israel melewati suatu proses namun tidak memanjakan mereka demi hidup dalam masa depan. (JS)