Renungan Minggu
Pieter Randan Bua

Dikasihi Dan Diperkenan Allah

Kristen Anderson diperkosa oleh Erick, laki-laki yang baru dikenalnya saat dalam keadaan mabuk. Saat  tersadar,  rasa tak berharga dan kotor  memenuhi pikirannya. Ia kalut dan putus asa. Ia pun berusaha mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri ke kereta yang sedang melaju kencang. Aksinya itu, menyebabkan ia harus kehilangan kedua kakinya setinggi lutut. Saat sedang dirawat di rumah sakit ia beberapa kali berusaha mencelakai dirinya. Suatu saat sahabatnya datang kepadanya dan berkata, ‘Tuhan mengasihimu dan memiliki rencana untuk hidupmu’. Kata-kata itu membekas di hatinya. Ia bangkit dan bersemangat. Ia pun menjadi motivator yang sangat efektif, menolong mereka yang dilecehkan dan diperkosa di seluruh dunia. Ini terjadi sejak ia sadar bahwa Allah mengasihinya bukan karena ia layak dikasihi.
Kadang-kadang kita terjebak dalam situasi serupa. Kita putus asa dan kalut karena merasa tak layak dan kotor di hadapan-Nya. Akibatnya kita berusaha dengan cara kita sendiri ‘menyogok’ Allah untuk mengasihi kita. Tapi yang benar tidaklah demikian, Allah mengasihi kita bukanlah karena kita layak atau karena usaha kita. Melainkan karena inisiatif Allah sendiri. Ia mengasihi ciptaan-Nya bukan karena ritual atau usaha yang dilakukan mereka, melainkan karena kasih dan anugerah-Nya semata. Berbeda dengan manusia yang mengasihi sesamanya karena keberhasilan atau karena memberinya keuntungan.
Lalu bagaimana sikap kita? Masihkah kita merasa bahwa kita dikasihi Allah karena usaha kita? Atau ‘menyogok’ Allah agar kita dikenan-Nya? Allah sedikit pun tak bergeming, sebab Ia mengasihi kita tanpa syarat. Ia mencintai ciptaan-Nya. Karena itu, marilah kita mencintai apa yang dicintainya tanpa syarat. Melakukan kebaikan tanpa syarat; Memberi pertolongan tanpa syarat; Beribadah tanpa syarat; Membangun relasi tanpa syarat. Melakukan semuanya dalam ketulusan tanpa perasaan kalut dan putus asa. Dengan demikian, kita  akan merasakan  indahnya kehidupan di dalam Kristus. Ini  terjadi, saat kita mengambil sikap merendahkan diri, bertobat dan memercayai-Nya sepenuh hati. – PRB