arsip

Renungan Minggu

This category contains 362 posts

Menjaga Perkataan, Mengikut Tuhan

Terkadang saya berpikir, apakah lidah memiliki otak sendiri. Bagi yang mengerti biologi atau yang menempuh jurusan kedokteran, tolong bantu jelaskan pada saya: apakah lidah punya otaknya sendiri? Karena kelihatannya, kata-kata bisa meluncur begitu saja bahkan sebelum seseorang sempat memikirkannya! Di mana kata-kata itu dihasilkan? Otak yang mana yang dipakai untuk mengolah hal itu? Ya, saya … Continue reading »

Berkarya Melampaui Sekat Duniawi

Suatu saat, seorang perempuan Siro-Fenisia datang kepada Yesus dan memohon supaya Yesus mengusir setan dari anaknya. Yesus kemudian berkata “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Perempuan itu menjawab Yesus dengan mengatakan bahwa anjing pun boleh makan remah-remah yang jatuh dari meja. Mendengar itu, Yesus … Continue reading »

Integritas Vs Kemunafikan

Pilih berintegritas atau menjadi manusia yang munafik. Kita buat sederhana: maukah kita hidup sesuai dengan apa yang menjadi identitas kita, bahkan yang terus menerus kita katakan, bahwa kita adalah umat Allah dan berpegang pada perintah Allah. Mereka yang tidak munafik itu menjunjung tinggi yang namanya setia. Seperti yang Ulangan 4:2, 6a katakan, “Janganlah kamu menambahi … Continue reading »

Bersama Mengukir Narasi Cinta Bagi Bangsa

Sebuah gereja…… haruskah menjadi eksklusif atau inklusif? Umat Kristen….. haruskah fanatik atau moderat? Di tengah kemajemukan negeri ini, ditambah dengan munculnya radikalisme dewasa ini, rasanya sangat tidak bijaksana jika kita – kaum minoritas – mengembangkan sikap eksklusif dan fanatik. Jika gereja mau tetap ada di Indonesia dengan kondisi baik-baik saja, bukanlah lebih elok kalau kita … Continue reading »

Roti Yang Mendatangkan Hikmat

Kebanyakan orang yang berulang tahun, ketika ditanya apa harapannya ke depan, hampir selalu menjawab ingin sukses dan menjadi orang yang berguna. Tentu itu jawaban yang baik. Selain berpikir untuk diri sendiri, mereka juga berpikir tentang orang lain, sebab menjadi berguna berarti melakukan karya bagi sesama. Tapi sayangnya, seringkali jawaban itu hanya menjadi kalimat klise semata. … Continue reading »

Sang Roti Hidup Memberi Kehidupan

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi Aku tenggelam dalam lautan luka dalam Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang Aku tanpamu butiran debu Refrein dari lagu Butiran Debu di atas mengungkapkan perasaan seseorang yang baru patah hati karena ditinggal kekasih hatinya. Ia menjadi sangat lemah dan tak berdaya, bahkan merasa dirinya tak ada … Continue reading »

Bekerjalah, Untuk Makanan Yang Tidak Binasa

Hidup tanpa Yesus seperti donat; ada lubang di tengahnya. Demikianlah sepenggal lirik dari sebuah lagu rohani anak. Lagu itu menggambarkan bahwa sekalipun hidup manusia tampak mewah dari luar – berkelimpahan harta, berkedudukan tinggi, punya banyak relasi, fisik yang kuat – namun jika ia tidak memiliki Yesus di dalam hatinya, maka hidup itu tidaklah sempurna; bahkan … Continue reading »

Percaya Kepada Yesus, Bukan Mencari Berkat

Banyak orang mengingini gaya hidup yang materialistis, konsumtif, dan hedonis. Paradigma ini juga menjangkiti orang-orang Kristen dan mempengaruhi dasar teologis mereka. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak orang mengikut Kristus hanya untuk mengejar berkat berupa harta duniawi. Maka muncullah teologi-teologi yang menyimpang seperti teologi kemakmuran. Mereka telah salah fokus, sebab yang mereka kejar hanyalah sebuah … Continue reading »

Menembus Batas Membangun Solidaritas

Layaknya sebuah labirin, hidup manusia dipenuhi dengan berbagai macam tembok pemisah dan sekat yang ada di dalamnya. Sekat gender, status sosial, jabatan, akademis, kerohanian, dan sekat lainnya yang terbentuk oleh perbedaan status dan kekuasaan. Ketika sekat dibuat, perbedaan semakin mencuat. Segregasi dan konflik pun menjadi akibat. Naasnya, sekat-sekat ini juga terbangun di dalam gereja Tuhan, … Continue reading »

Menyuarakan Kebenaran

Budaya risih atau perasaan “sungkan” seringkali membuat kita enggan untuk menegur seseorang yang berbuat salah. Ditambah dengan perkembangan zaman yang membuat orang semakin individualis dan acuh tak acuh seorang terhadap yang lain. Maka tak jarang kita mendengar orang berpendapat, “Ya sudahlah, itu kan urusan dia sama Tuhan, biar Tuhan saja yang menegurnya.” Alasan lain atas … Continue reading »