Renungan Minggu
Avatar

Bermegah Dalam Kuasa Tuhan

2 Samuel 5:1-10
Pernahkah kita menghitung berkat Tuhan di saat hidup kita dilanda topan keras? Lagu yang kita nyanyikan hari ini, KJ 439 “Bila Topan K’ras Melanda Hidupmu”, adalah gubahan seorang yang betul-betul memaknai pertanyaan di atas. Dia adalah Johnson Oatman (1856-1922). Sejak kecil ia bercita-cita untuk menjadi penyanyi terkenal, namun usaha dalam mencapai cita-citanya tersebut selalu gagal. Kegagalan demi kegagalan dialaminya bagai angin topan yang menghantamnya secara bertubi-tubi. Saat ia berusia 36, ia mulai mengubah arah haluan hidupnya. Ia mulai menulis puisi, salah satunya adalah syair lagu tersebut, dan suatu waktu, seorang pengarang musik bernama Edwin Excell memadukan puisi tersebut dengan melodi karangannya. Maka terciptalah lagu tersebut. Tanpa diduga-duga, lagu tersebut  menjadi berkat bagi banyak orang hingga saat ini. Dari cerita ini, kita bisa mengetahui rencana indah Allah dibalik kegagalan seorang Johnson Oatman. Syair lagu tersebut tercipta saat Johnson mengimani bahwa dalam segala keadaan, termasuk saat dilanda topan, orang percaya harus tetap mengingat dan menghitung berkat yang Allah karuniakan kepada anak-anak-Nya. Nama Johnson Oatman menjadi besar bukan karena rancangannya sendiri, melainkan setelah dirinya melibatkan Allah dan menundukkan diri kepada otoritas Allah.
Hal yang sama juga terjadi pada Daud, pengarang Mazmur-mazmur yang indah yang tak lekang oleh waktu, sekaligus raja besar Israel. Bacaan kita menceritakan bahwa saat dirinya diangkat menjadi raja dan mengadakan perjanjian dengan umat (2 Sam 5:3), Daud melakukannya di hadapan TUHAN. Ayat 10 juga mencatat bahwa kekuasaannya bertambah besar karena Allah semesta alam, menyertainya. Dari awal kisah dan selama perjalanan hidupnya, Daud senantiasa melibatkan Allah dalam kehidupannya.
Sebagai manusia, baik Daud dan Johnson dan kita semua, memiliki dua sisi kehidupan, yaitu kesuksesan dan kegagalan (Kita semua juga tahu bahwa Daud juga pernah gagal). Pertanyaannya, apakah fokus kita dalam menghadapi hal-hal tersebut? Kesuksesan yang kita raih atau kegagalan yang menimpa kita? Ataukah kita akan berfokus pada kebesaran karya Allah dalam hidup kita, yang akan menuntun kita untuk selalu memuliakan Dia? (APr)