Renungan Minggu
Pieter Randan Bua

Berjalan Dalam Kepastian

Nikodemus artinya sang penakluk. Ia adalah pemimpin agama Yahudi anggota Sanhedrin. Ia mengunjungi Yesus pada malam hari. Mungkin karena takut ketahuan teman-temannya. Sikapnya menunjukkan keraguannya terhadap kepercayaan lamanya karena mendengar pengajaran-pengajaran Kristus. Ia bingung dan setengah percaya dengan ungkapan Yesus tentang kelahiran baru. Namun akhirnya ia menaklukkan keraguannya itu. Ia percaya kepada Kristus. Ia muncul beberapa kali dalam Injil Yohanes sebagai orang yang menunjukkan kasih kepada Kristus. Ia melakukan protes keras atas penghukuman Kristus tanpa mendengarkan Dia terlebih dahulu (Yoh 7:50-52). Ia muncul pula membawa rempah-rempah untuk ditaburi di tubuh Kristus (Yoh 19:40).
Nikodemus sebelum berjumpa secara pribadi dengan Kristus mungkin mewakili banyak orang yang hidup dalam keragu-raguan. Mereka taat beribadah dan menyembah Allah dengan sungguh-sungguh tetapi tetap ragu akan keselamatan mereka. Mereka dihantui ketakutan akan penghukuman karena dosa. Tak hanya itu mereka tak mengalami kebahagiaan sejati.
Namun sikap Nikodemus setelah dilahirkan kembali karena menerima Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Ia tetap setia menaruh percayanya walaupun Kristus itu mati disalibkan. Membawa rempah -rempah untuk ditaruh di tubuh Yesus yang telah mati, menunjukkan kasihnya yang mendalam. Ia tetap percaya bahwa kelahiran baru dengan menerima Kristus sebagai Tuhan adalah satu-satunya jalan melihat Kerajaan Allah.
Kita yang menaruh iman yang sama kepada Kristus seharusnya memiliki sikap yang sama. Sebagaimana I Yoh 5:11-13 berkata, ‘… barangsiapa memiliki Anak ia memiliki hidup barangsiapa tidak memiliki Anak ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal’. Kata tahu dalam ayat ini bukan bermakna; berharap, mudah-mudahan atau pun insya Allah melainkan bermakna pasti. Artinya siapa pun yang berjalan dalam keraguan haruslah menakar ulang keyakinannya apakah ia sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, Anak Allah. -PRB