Renungan Minggu

Belajar Setia Dari Maria

Lukas 1:26-38, 46-55

Seseorang bersedia untuk taat dan setia, biasanya jika dijanjikan kenikmatan hidup, kesuksesan, atau berkat lainnya. Kita harus diiming-imingi dahulu barulah mau taat dan setia. Jika hal itu tidak ada, dengan enteng kita mengatakan, “maaf saja tidak ada imbalannya!” Bisa juga, orang jadi taat dan setia menjalankan aturan agama, karena takut akan hukuman. Bukankah ketaatan seperti itu sama seperti ketaatan anak-anak? Hal itu tidak menunjukkan kedewasaan iman sama sekali. Ketaatan sejati lahir dari pengenalan akan Pribadi yang kita taati. Itulah yang dilakukan Maria.
Ketaatan Maria bukan tanpa pertimbangan. Ketaatan itu lahir dari pengetahuannya kepada janji Allah yang tertulis dalam kitab para nabi. Ia juga melihat bahwa Allah telah bekerja kepada nenek moyang dan leluhurnya dahulu. Maria meyakini bahwa Allah punya rencana keselamatan yang sudah dijanjikan dan rencana itu harus terwujud. Maka dari itu, ia bersedia ambil bagian dalam mewujudkan rencana agung itu. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:38).” Maria juga mempertimbangkan masa depannya. Ia tahu rencana itu mungkin harus mengorbankan masa depannya, bahkan keselamatan dirinya. Mungkin saja, ia akan dituduh berzinah karena belum benar-benar menjadi istri Yusuf tunangannya dan hukuman pada saat itu adalah rajam. Akan tetapi, Maria memutuskan untuk taat juga karena yakin bahwa Tuhan itu baik dan adil. Ia percaya Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang taat dan setia menjalankan rencanaNya. Inilah yang menjadi dasar kidung pujian Maria (Magnificat).
Kita semua pada minggu ini belajar dari Maria yang dengan taat dan setia mau dipakai untuk mewujudkan rencana Tuhan. Ketaatan itupun lahir karena Maria tahu benar bahwa Tuhan lebih dahulu setia kepada janjiNya. Tuhan sudah mencontohkan ketaatan dan kesetiaan kepada kita semua, bahkan itu untuk kebaikan umat manusia. Maria dengan nyata merespon kesetiaan Tuhan dengan ketaatan dan kesetiaannya untuk menjadi alatNya. Marilah kita meneladani ketaatan dan kesetiaan Maria dalam merespon panggilan Tuhan kepada kita semua. Kita respon panggilan itu dengan ketaatan dan kesetiaan bukan karena kita takut atau berharap imbalan, tetapi karena kita mengenal Tuhan Yesus sang Juruselamat manusia. Mari kita jaga ketaatan dan kesetiaan kepadaNya hingga kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali supaya kita tidak didapatiNya cacat dan bercela.  (DI)