Renungan Minggu
Ester Johanah

Belajar Mengasihi Di Segala Musim

Di tengah terik matahari, seorang gadis kecil berpakaian kumal berjalan menghampiri  setiap  pengemudi yang berhenti di lampu merah.  Tangan kurusnya mendekap beberapa lembar  koran dan dengan wajah memelas ia menawar-nawarkannya.  Seorang bapak membuka kaca mobil, dia tidak bermaksud membeli koran tapi hanya ingin memberi anak itu uang receh sebesar Rp. 500,-. Setelah menerimanya, wajah anak itu tidak gembira malah melepar recehnya sambil teriak “wong sugih kok peli!t”.  Si bapak hampir saja keluar dari mobil tapi tidak jadi karena lampu sudah hijau. Sempat sebuah kalimat terlontar dari mulutnya “Dasar gembel, nggak tahu diri.” Karena tersinggung, belas kasihan si bapak berubah jadi balas makian si anak.
Kasih manusia mudah berubah, dan sangat tipis batasnya dengan kebencian. Pada kisah di atas, kasih yang berubah jadi benci mungkin hanya akan terjadi sesaat. Tapi bagaimana jika kasih yang berubah jadi benci terjadi pada orang yang tinggal serumah atau pada orang terdekat kita? Ini adalah masalah besar. Pembiaran tentu saja bukan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Filipi 2:5 adalah solusi yang Tuhan berikan agar kita mampu mengatasinya.  “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Pikiran dan perasaan Kristus yang seperti apa? Kristus dalam rupa Allah yang Maha Tinggi telah mengosongkan diri-Nya menjadi seorang  hamba, itulah solusinya. Memiliki kerendahan hati seperti Kristus adalah kunci awal yang membawa kita untuk memiliki kasih yang teguh di segala musim.  Kasih Kristus tidak berubah saat manusia meresponinya dengan pengkhianatan, pelecehan, dan penganiayaan di kayu salib.
Orang tidak percaya mungkin memandang kasih dan kerendahan hati Kristus itu sebagai hal yang konyol. Kristus tidak mati konyol, sebaliknya Allah sangat meninggikan Dia. Filipi 2:9  “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”  Ketika kita belajar mengasihi, ingatlah teladan Kristus! Berdoalah supaya kasihNya memampukan kita untuk mengasihi sesama, mengatasi ketinggian hati kita dan juga kebebalan respon manusia. Terpujilah Tuhan Yang Maha Kasih!  (Ejo)