Renungan Minggu

Yesus : Juruselamat

Memasuki tahun 2014 sudah mulai terasa dinamika pesta demokrasi, di mana kita semua akan menyaksikan proses pemilihan umum baik itu pemilu legislatif maupun pemilu pemimpin nasional: presiden. Menarik untuk disimak dalam dinamika pesta demokrasi ini adalah bagaimana para peserta pemilu dari calon-calon legislatif yang menampilkan diri untuk dapat dipilih oleh masyarakat. Mereka mulai mendekati masyarakat dengan slogan-slogan antara lain : “Dengan memilih saya anda tidak salah, karena inilah jalan menuju cita-cita hidup sejahtera”, “Caleg yang berpihak pada rakyat”, “Caleg solider”, dan masih banyak lagi slogan-slogan yang tidak rasional. Dan seperti biasanya nanti sesudah pemilu usai para celeg terpilih yang terjadi kemudian mereka melupakan janji-janji keberpihakkan pada masyarakat yang akan menyelamatkan masyarakat dari persoalan-persoalan sosial. Apakah mudah membela dan berpihak pada rakyat ? Bukan persoalan yang sederhana, karena ada harga yang harus dibayar.
Menjadi pribadi yang tampil untuk menyelamatkan keadaan dari kekacauan dalam masyarakat haruslah seorang pribadi yang setia pada hukum, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap, peduli dan berempati (Yes 42:1-9). Dan pada akhirnya pribadi yang semacam ini nyata jelas di dalam diri Yesus Kristus di mana Ia hadir di tengah-tengah manusia dan memberi diri di Baptis. Baptisan Yesus oleh Yohanes pembaptis bukan baptisan pertobatan namun baptisan yang menyatakan bahwa Ia solider terhadap manusia.  Yesus yang solider dan berbelas kasih ada bersama-sama  dalam ketidakberdayaan dan kerapuhan kita, Ia datang, membantu dan campur tangan dalam kehidupan kita. Dalam kebersamaan-Nya ia senantiasa dekat dengan setiap orang terutama mereka yang lemah, miskin, berdosa dan tak berdaya. Tidak hanya bersama Iapun bahkan terlibat dan keterlibatan itu Ia wujudkan dalam tindakan kasih dengan menyembuhkan, mengampuni, menguatkan, menghidupkan, dan memberi harapan. Puncak kasih-Nya terwujud ketika Ia menanggung penderitaan dan wafat di kayu salib untuk penebusan dan penyelamatan manusia. Oleh sebab Yesus sang penyelamat memiliki pribadi yang unik di mana prioritas, keprihatinan dan orientasi hidupnya terpusatkan pada manusia. Maka tidaklah salah bila sejak awal kelahiranNya ia diberi nama Yesus seorang juruselamat yang membebaskan manusia dari dosa. (JS)

Arsip