Renungan Minggu

TOTALITAS DALAM MENJALANI PANGGILAN TUHAN

Yunus 3:1-5,10 ,Mazmur 62:5-12 ,I Korintus 7:29-31 ,Markus 1:14-20

Menjalani Panggilan Tuhan dibutuhkan totalitas, namun itu tidaklah mudah karena ada banyak tantangan dan hambatan baik dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri.

Yunus mengalami pergumulan yang begitu hebat ketika memenuhi panggilan Tuhan. Karena ketika diutus Tuhan ke Niniwe ia malah ke Tarsis. Pada saat mestinya menyusuri  jalan dan lorong di kota besar itu, dia malah tidur nyenyak di dalam kapal. Ketika Tuhan memerintahkan ikan besar itu untuk memuntahkan Yunus ke darat, Yunus memperoleh kesan yang mendalam bahwa Tuhan masih menghendaki dia hidup. Saat untuk kedua kalinya Tuhan mengutus dia ke Niniwe, seharusnya Yunus memahami dan menghargai Tuhan yang masih bersedia menjadikannya sebagai nabi-Nya.

Yunus keliling kota Niniwe menganjurkan pertobatan kepada seluruh penduduk kota, termasuk rajanya. Namun Yunus juga bergumul dengan perasaan jengkel dan bahkan marah kepada Tuhan, mengapa Tuhan mengampuni sesamanya  yang bertobat ituk Untuk memenuhi panggilan Tuhan dibutuhkan Totalitas, untuk bisa total harus menyatu dengan yang mengutusnya yaitu Tuhan Allah sendiri.

Sampai di sini ada baiknya kita meninjau ulang kualitas pelayanan kita kepada Tuhan selama ini. Banyak di antara kita yang melayani karena tugas semata. Tidak disertai kerinduan membawa hasil yang seoptimal mungkin. Marilah dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam melayani dalam situasi hidup kita masing masing, secara khusus melayani Tuhan secara total dalam hidup kita berkeluarga.

Dalam tradisi pada malam sebelum Imlek atau pada saat Imlek, seluruh keluarga akan berkumpul di rumah orangtua untuk makan bersama. Kiranya pada waktu makan di sana terciptalah suasana yang hangat dan saling berbagi. Dengan menikmati makanan yang sama dari meja yang sama pula, dengan berbagi, seperti perjamuan paskah Yahudi, di mana bila satu keluarga tidak dapat menghabiskan seekor domba, dia dapat mengajak tetangganya (bdk. Kel 12:4), semua perbedaan antar anggota keluarga menjadi lebur. Mereka yang mungkin pernah tidak saling menyapa dan bermusuhan kini membina kembali hubungan keluarga yang indah ini di depan orangtua.

Momen Imlek (bagi yang merayakan) bisa kita pakai untuk mempererat tali persaudaraan dan pelayanan kita terhadap keluarga agar mereka boleh mengenal Tuhan  itu kasih, Tuhan itu baik Tuhan itu sayang keluarga.

Selamat melayani ! Selamat Tahun baru Imlek bagi yang merayakan, Tuhan memberkati !! (WS)

Arsip