Renungan Minggu

Tetap Setia Walau Didera

Seseorang dipukuli oleh 20 orang warga. Bogem mentah bertubi-tubi mengenai tulang pipi dan tubuhnya yang mulai ringkih.  “Ampun….ampun…” seru orang itu. Tetapi mereka yang telah dikuasai kemarahan menutup telinga terhadap rintihannya. Tubuhnya makin melemah. Darah mulai mengalir dari hidungnya. Matanya memar memerah, bercampur dengan air mata.  Bibirnya menebal dan menjadi bengkak. Orang ini ternyata adalah seorang pencuri yang tertangkap basah ketika berusaha membongkar paksa lubang kunci motor yang ingin dicurinya. Pencuri ini jelas mengalami penderitaan, tetapi bukan seperti yang Tuhan Yesus maksudkan ketika Dia berkata bahwa pengikut-Nya akan mengalami penderitaan (Yoh. 15:18-27)!
Yesus memang mengatakan, selama hidup di dunia, murid-murid-Nya akan mengalami penderitaan: ditolak, dibenci, bahkan dianiaya. Namun bukan karena berbuat salah. Mereka akan mengalami penderitaan karena hidup dalam kebenaran dan memberitakan kebenaran itu. Yesus berkata, jangan kaget jika hal ini terjadi. Yesus sendiri pun mengalaminya.  Maka  tidak heran jika di lingkungan kerja, lingkungan kuliah, atau lingkungan bermasyarakat, anak-anak Tuhan justru banyak dicibir ketika berlaku jujur.  Mereka dikatakan sok suci ketika menjauhi kehidupan malam. Dibilang ketinggalan zaman ketika setia pada pasangan. Bahkan tidak jarang umat Tuhan mengalami kekerasan fisik dan mental ketika memberitakan Kabar Baik.
Semua hal ini juga bisa kita alami, tetapi janganlah ini melemahkan iman kita.  Pandanglah ini sebagai kesempatan untuk melakukan perjalanan rohani, dimana kita dapat merasakan apa yang Yesus rasakan ketika Dia ditolak dan disalibkan. Pandanglah ini sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan menyenangkan hati Tuhan, ketika kita melakukan kebenaran di tengah-tengah deraan. (TA)