Renungan Minggu

Setia Menjalani Panggilan

Kesetiaan mungkin menjadi sebuah hal yang langka kita temukan sekarang. Pernyataan ini diperkuat dengan banyaknya fenomena perceraian yang sering kita dengar, baik itu perceraian para artis yang kita lihat diinfotainment atau lirik-lirik lagu para seniman musik Indonesia yang sering mengangkat tema perselingkuhan sebagai topik utamanya. Sekarang, kesetiaan tampaknya bukanlah merupakan hal yang penting lagi. Kesetiaan yang diartikan sebagai berpegang teguh pada prinsip dan janji sepertinya sudah bukan zamannya lagi. Sekarang yang berlaku adalah jika sudah tidak menguntungkan, ya buang saja. “Habis manis sepah dibuang” begitulah peribahasa Indonesia menggambarkannya.
Dalam menjalani panggilan pun sepertinya kita sering seperti itu, yaitu tidak menjunjung kesetiaan. Kita semua tahu bahwa menjalani panggilan bukanlah sebuah perkara yang mudah. Apalagi jika mellihat kenyataan bahwa kita sebagai orang Kristen yang tinggal dalam sebuah negara, dimana kekristenan adalah sebuah minoritas. Tentu saja, jika kita serius menjalani panggilan, maka kita akan menemukan banyak sekali tantangan baik itu berupa kesukaran atau pun penolakan. Sebenarnya, kenyataan ini bukan hanya kita saja yang mengalaminya. Yesus pun ternyata mengalami penolakan yang sangat hebat ketika Dia berada dikampung halaman-Nya, di Nazaret (Mrk. 6:1-6a). Bahkan kemarahan mereka sangat besar, sampai-sampai mereka ingin membunuh Yesus dengan cara mendorong-Nya ke jurang (Luk. 4:29). Yehezkiel pun diutus Allah ke tengah sebuah bangsa pemberontak (Yeh. 2:3). Tapi kesukaran dan tantangan ini tidak membuat mereka mundur. Mereka tetap setia maju dan menjalani panggilan dengan tekun. Yesus terus mengajar dibanyak desa dan mengutus para murid (Mrk. 6:6b-13) sementara Yehezkiel terus menjalani tugasnya sebagai penjaga Israel (Yeh. 3:16-21).
Kesetiaan kita dalam menjalani panggilan ditengah segala kesukaran dan penolakan sebenarnya terjadi bukan karena kekuatan kita. Tapi kita dikuatkan dan diteguhkan oleh Tuhan yang mengutus kita (Yeh. 3:8). Tuhanlah yang menopang kita disegala kelemahan kita. Walau diterpa banyak permasalahan, seperti masalah kesehatan, gangguan finansial, penolakan keluarga dan sebagainya, satu keyakinan yang pasti bahwa Allah turut bekerja dan Allah saja yang membuat kita kuat dan setia dalam panggilan. Allah pasti bekerja dalam setiap kelemahan kita. Seperti kata Paulus, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor. 12:10). -RFP-

Arsip