Renungan Minggu

Ratapan Yang Diubah Menjadi Pengakuan Iman

Nathan, sebut saja begitu, seorang pemuda yang sangat aktif melayani Tuhan baik di gereja maupun masyarakat. Dia setia berdoa dan selalu bersyukur bahwa doa-doanya selama ini dikabulkan oleh Tuhan. Termasuk ketika dia berdoa untuk calon pasangan hidupnya, Tuhan memberikannya seorang gadis yang sangat baik. Tahun demi tahun berganti, namun pasangan ini belum juga dikaruniai anak. Nathan dan istri tetap tekun berdoa. Hingga pada tahun kesepuluh pernikahan mereka, Tuhan mengaruniakan seorang anak kepada mereka. Tentu ini sebuah kebahagiaan yang tak terkira bagi mereka. Nathan pun semakin giat melayani Tuhan karena Tuhan telah mengabulkan doanya. Namun kebahagiaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Menginjak usia ke delapan, anak satu-satunya itu mengidap penyakit leukimia dan tidak dapat tertolong; ia meninggal. Betapa hancurnya hati Nathan. Sejak peristiwa itu dia memutuskan untuk tidak lagi berdoa, beribadah, apalagi melayani Tuhan. Ia merasa semua yang dia lakukan selama ini tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan. Ia sangat kecewa dan marah kepada Tuhan.
Tiga tahun berlalu….Nathan masih mengurung diri dalam kesedihannya. Suatu kali, tanpa sengaja dia mengambil selembar kertas yang jatuh di lantai, yang ternyata isinya sebuah renungan. Perlahan dia membaca dan hatinya mulai bergetar. Dia ingat, penulis renungan itu adalah…..dirinya. Nats yang tertulis di sana adalah “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Seketika itu juga hati Nathan luluh. Betapa mudahnya ia mengimani Firman Tuhan saat kehidupan berjalan lancar. Namun ketika masalah muncul, ia justru meninggalkan Sang Firman. Maka Nathan pun menyesal dan segera bertobat. Ia kembali mengakui kebesaran Tuhan dan kembali dalam penyerahan hidup kepada Sang Juruselamat.
Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami permasalahan berat dalam hidupnya. Namun jika hal itu terjadi, janganlah menjauh dari Tuhan, sebab itu justru akan membuat hati kita semakin terpuruk dan penuh kemarahan. Tindakan terbaik adalah datanglah kepada Tuhan dan akuilah kekuasaan-Nya dalam hidup kita, maka niscaya Tuhan akan mengubah ratapan kita menjadi nyanyian baru dan puji-pujian. Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan kita Yesus Kristus!! (RKG)