Renungan Minggu

Pengampunan, Awal Dari Pemulihan

Seorang pemilik periuk tanah liat lebih memilih membeli periuk baru daripada memperbaiki periuk yang sudah pecah. Alasannya, periuk baru sangat mudah didapat di pasar. Harganya pun tidak mahal. Yang pasti, dia tidak perlu repot menempel kembali pecahannya. Sebab kalaupun bisa ditempel lagi, ketahanannya tidak terjamin.  Membuang dan mengganti dengan yang baru jauh lebih praktis daripada memperbaiki yang sudah rusak. Prinsip ini biasa diterapkan pada benda, namun jika diterapkan pada hubungan dengan sesama, apa jadinya? Banyak hubungan baik yang hancur, persahabatan retak, hubungan keluarga putus, dan perceraian pun terjadi.
Bayangkan jika Tuhan memakai prinsip buang tadi terhadap manusia! Bisa jadi, bangsa Israel sudah dibuang dan diganti dengan bangsa lain. Bisa jadi Tuhan tidak merasa perlu mengutus Kristus untuk menderita, mati dan bangkit, jika Ia tidak berniat menebus kita dari dosa. Sebetulnya sangat mudah bagi Dia untuk membinasakan manusia berdosa dan menggantinya dengan ciptaan lain. Untung Tuhan tidak melakukannya. Ia lebih memilih memulihkan hubungan dengan cara mengampuni dosa kita. Dalam 2 Korintus 5:19, Paulus menjelaskan tindakan pengampunan Tuhan adalah dengan cara mendamaikan dan tidak memperhitungkan pelanggaran manusia. Pengampunan seperti  ini hanya bisa terwujud karena didasari oleh kasih Allah yang besar. Sama seperti gambaran kasih seorang bapa yang menerima kembali anaknya yang hilang (Lukas 15: 11-32).  Anak itu meninggalkan bapanya lalu hidup bergelimang dosa. Namun ketika sang bapa melihatnya di kejauhan, ia segera berlari, merangkul, dan mencium anaknya. Inisiatif pengampunan datang dari kasih Bapa.  Begitu juga kasih Tuhan telah berinisiatif  untuk mengampuni kita. Kini kita telah dipulihkan menjadi ciptaan baru yang mampu berelasi kembali denganNya.
Pemulihan tidak akan terjadi tanpa pengampunan, dan pengampunan hanya bisa terwujud oleh dorongan kasih sejati dari Tuhan. Sebagai ciptaan  baru, Tuhan telah menganugerahkan kasih sejatiNya kepada setiap kita. Maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak dapat mengampuni. Tuhan telah memampukan kita. Relakanlah hati kita untuk dikuasai kasih Tuhan, sehingga pengampunan dan pemulihan bisa terwujud di antara kita. (EJO)

Arsip