Renungan Minggu

Menjadi Komunitas Yang Saling Percaya

Suatu kali diadakanlah sebuah kompetisi Hell Idol (Idola Neraka) yang diikuti oleh para setan. Tantangannya adalah barangsiapa dapat memecah belah sebuah persekutuan manusia, dialah yang menang. Setan pertama muncul dan memperagakan gaya menakut-nakuti dengan tampang seram. Setan kedua tampil dengan mengatakan akan mendatangkan penderitaan seperti kemiskinan dan sakit penyakit. Setan ketiga menyatakan akan membisikkan kata-kata kepada setiap anggota persekutuan bahwa salah satu dari mereka adalah utusan iblis. Setelah berunding, lalu juri memutuskan bahwa setan pertama dianggap gagal karena manusia sudah biasa nonton film horor. Setan kedua pun dinyatakan gagal karena rahasianya sudah terbongkar di kitab Ayub. Maka pemenangnya adalah setan ketiga karena siasatnya akan menimbulkan sikap saling curiga dan saling tidak percaya, di mana hal itu merupakan pangkal kehancuran sebuah persekutuan.
Kehidupan para murid setelah peristiwa kematian Yesus dilingkupi perasaan saling tidak percaya. Tidak percaya dengan para imam dan penguasa Roma yang telah memperlakukan Yesus dengan sangat tidak adil. Saling tidak percaya diantara para murid karena Yudas, salah satu dari mereka telah menjual Yesus. Setelah Yesus bangkit pun, mereka masih belum bisa terlalu mempercayai berita yang disampaikan oleh para perempuan. Tomas pun tetap tidak percaya walaupun seluruh teman dekatnya mengatakan bahwa Yesus telah bangkit. Kondisi semacam ini tentu tidak menguntungkan dan bisa menghancurkan mereka. Oleh karena itu Yesus perlu menampakkan diri untuk meneguhkan iman mereka dan memulihkan rasa saling percaya diantara mereka. Dengan demikian mereka pun siap diutus untuk menjadi rasul-rasul-Nya.
Bagaimanakah dengan persekutuan kita? Sudahkah kita menjadi komunitas yang saling percaya sehingga kita mampu bekerja sama untuk menjadi para pemberita Injil dan pelayan Tuhan yang tangguh? (RKG)