Renungan Minggu

Mengikut Kristus Dan Menjadi PelayanNya

Di telinga orang kristen istilah pelayan, melayani atau pelayanan bukan lagi menjadi barang yang asing karena memang itulah roh kekristenan  adanya. Mengapa demikian? Sebab Yesus yang disembah menjadi pusat dalam hidup kekristenan sendiri mengajarkan: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Meskipun bagi orang kristen hal pelayanan atau melayani sudah merupakan hal yang biasa, namun permasalahannya:  apakah pelayan Kristus dalam melakukan pelayanannya menempatkan Kristus sebagai yang utama? Dalam kenyataannya tidaklah demikian, seringkali mereka justru menempatkan dirinya menjadi pusat pelayanan sehingga bukan lagi ia melayani dan untuk kepentingan Kristus, melainkan ia melayani kepentingan dirinya sendiri. Tentunya ini jelas bukan melayani seperti yang diinginkan Kristus. Maka tidak heran Yesus menegur para murid yang bermain kuasa dengan menurunkan api dari langit untuk membinasakan orang Samaria.
Menjadi pelayan Tuhan seseorang harus memahami betul makna sebuah pelayanan, bila tidak ia hanya memuaskan dirinya sendiri atas nama Tuhannya. Ia bisa menjadi seperti Elia yang mogok dan tidak mau melakukan apa-apa lagi bagi Tuhan yang dia layani. Pelayanan-pelayanan seperti  ini tidak lagi menampilkan sosok sebagai seorang pelayan karena dirinya telah dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan kedagingannya sendiri.
Untuk mengikut Kristus dan menjadi pelayanNya, seorang percaya harus menyelaraskan dirinya dengan Kristus yakni memberi diri untuk dipimpin oleh Roh. Roh itulah yang menguasai dirinya dan tahu apa yang diinginkan oleh Kristus serta menempatkan Kristus di atas kepentingan-kepentingan pribadinya.  “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Dengan perkataan Yesus ini, masih inginkah kita mengikut Yesus dan menjadi pelayanNya? (JS)

Arsip