Renungan Minggu

MENANTI DALAM PERTOBATAN

Di suatu hari, seorang kepala sekolah kebetulan tidak langsung pulang karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Karena lelah, ia pergi berjalan-jalan ke kebun dan melihat sekumpulan murid sekolah itu sedang berkerumun sehingga mengundang kecurigaan kepala sekolah ini. Padahal, baru seminggu yang lalu mereka itu dihukum karena tertangkap basah mencuri buah-buahan dari kebun sekolah.

“Selamat siang, anak-anak!”

“Selamat siang, Bu!”

“Sedang apa kalian di sini?”

“Mencari burung, Bu.”

“Tidak mencuri mangga lagi?”

“Tidak, Bu. Kami telah bertobat!”

“Bagus! Nah, kalau kalian sudah bertobat, sekarang keluarkan mangga- mangga itu dari saku celanamu!!”

Pertobatan tentu bukan merupakan suatu ucapan yang hanya keluar dari mulut bibir yang manis, namun pertobatan adalah suatu sikap hidup yang berbalik secara total baik dalam tindakan, perkataan, cara berpikir maupun sifat-sifat manusia yang berpusatkan pada ego. Bertobat berarti manusia mengarahkan hidupnya kepada Allah menjadi satu kesatuan dengan Allah, dalam pengertian Allah-lah yang menguasai dan mengendalikan dirinya sehingga karakter yang muncul adalah karakter Ilahi yang bermoral. Suatu gambaran pertobatan yang nyata adalah buah-buah dari suatu perilaku dalam kehidupan yang memberikan rasa baik bagi diri sendiri maupun sesama.

Selagi kita ada itu merupakan kesempatan bagi bagi kita untuk memperjuangkan hidup agar dapat memiliki kekudusan dalam menyambut kedatanganNya untuk yang kedua kalinya. Dan perjuangan itu dimulai dari pembaharuan, kesadaran dan pencerahan diri sendiri, bukan dengan menunjuk pada orang lain: kamu harus bertobat, tetapi …….. saya harus bertobat. (J-S)