Renungan Minggu

Menang Atas Badai

Malam itu, 26 Desember 2004, Aceh berkabung. Badai tsunami yang begitu hebat telah meluluhlantahkan semua rata dengan tanah. Badai berkecepatan tinggi itu memang datang tiba-tiba. Tidak ada satu pun yang menyangka kalau dimalam Natal yang penuh sukacita itu, berubah menjadi sebuah malam perkabungan. Bukan hanya Aceh yang berkabung, tapi seluruh dunia berkabung atas tewasnya ratusan ribu jiwa. Itulah badai, datang tak terduga dan hanya meninggalkan duka.
Kehidupan manusia pun tak luput dari berbagai “badai”. Problematika hidup tiba-tiba menghampar dimuka dan kita tidak tahu mencari jawab kemana. Semua jalan tampak buntu dan kita hanya bisa menggerutu. Sepertinya kita tidak mampu bertindak tepat karena semua terjadi begitu cepat. Fenomena ini nyata, bukan ilusi semata, dan bisa juga menimpa orang percaya.
Siapa yang tidak mengenal Ayub? Orang saleh yang kaya itu, tiba-tiba tanpa alasan yang pasti mendapati putra-putrinya mati, istrinya mencibirnya dan pergi, dan segala hartanya hilang dirampok dan ditelan api (Ayub 1:13-19; 2:9). Ayub bertanya, “Tuhan, kenapa?” Sekali lagi Ayub berteriak dan protes, “Tuhan, aku salah apa?” (Ayub 31). Tuhan tidak segera menjawab. Tuhan diam dan Ayub hanya mendengar kebisuan.
Siapa yang tidak mengenal Paulus? Siapa yang menyangka penulis tiga belas kitab Perjanjian Baru itu juga mengalami problematika badai kehidupan. Siapa yang menyangka kalau rasul yang dipakai Tuhan luar biasa itu juga mengatakan, “aku menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan, dan kesukaran” (2 Kor. 6:4)? Rasul itu pun tak luput dari derita dan topan badai kehidupan fana. Dia sama seperti manusia biasa, bergumul, berjuang, dan bertahan dari badai yang menerpa.
Jika melihat lagi peristiwa badai tsunami Aceh, maka kita akan melihat sebuah fakta menarik. Ternyata tidak semua bangunan hancur rata dengan tanah. Ada bangunan yang masih bisa berdiri kokoh tidak tergoyangkan badai. Hal ini membuat kita bertanya-tanya, “Koq bisa? Kenapa ketika semua bangunan hancur, dia masih bisa berdiri dengan kokohnya?” Walau pun muncul ragam jawaban, tapi satu hal yang pasti, bangunan itu mampu berdiri kokoh dan menang atas badai karena memiliki dasar (fondasi) yang kokoh.
Begitu juga dalam menghadapi badai kehidupan, kita harus memiliki dasar yang kokoh untuk menang. Siapakah dasar yang menopang kita? Dialah TUHAN yang membuat “badai itu diam sehingga gelombang-gelombang tenang” (Maz. 107: 29). Dialah Yesus Sang Maha Kuasa yang berkuasa atas badai (Mrk. 4:35-41) akan menopang kita dalam menghadapi semua problematika badai kehidupan. Dia akan memampukan kita melewati dan menang atas badai. Semua itu bukan usaha kita, tapi karena anugerah Tuhan. Kita tidak bisa menang atas badai, tapi kita dimenangkan karena topangan Tuhan peletak dasar bumi ini (Ayub 38:4). –RFP-