Renungan Minggu

Memuliakan Allah Dalam Penderitaan

Tubuh saya masih lemas akibat demam tinggi dan mual, ketika  dosen itu datang membesuk ke Rumah Sakit Adven, Bandung. Sudah tiga hari saya dirawat. Kena demam berdarah. Di bangsal berisi 8 orang itu, saya didoakan. Lalu ia berbisik: ”Kalau sudah baikan, tengoklah pasien-pasien lain di sini. Ajak ngobrol. Siapa tahu, ada yang mau didoakan.” Ide ini sangat tidak menarik. ”Boro-boro mikirin orang lain. Saya sendiri lagi dirawat. Lagi menderita. Kenapa harus mikirin orang lain?”

Ketika menderita, biasanya kita jadi egois dan sensitif. Pikiran dan perasaan sepenuhnya terpusat pada diri sendiri. Yang penting aku bisa bebas dari derita ini. Itu sebabnya sulit untuk memuliakan Allah dalam penderitaan. Bahkan penderitaan kadang membuat orang bersungut-sungut dan meninggalkan Tuhan. Yesus tidak demikian! Ketika tahu sebentar lagi penderitaan datang, respon-Nya bukan cari selamat. Ia berkata:”Apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak,sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” (Yoh 20:27-28a). Yesus memandang ke luar, bukan ke dalam diri. Ia membandingkan diriNya dengan biji gandum. Hanya jika jatuh di tanah dan mati, benih akan tumbuh menghasilkan banyak buah. Yesus tahu, hanya jika Ia berkorban, manusia bisa ditebus hingga memuliakan Allah. Maka Ia pun setia menjalaninya.

Kita bisa tetap memuliakan Allah dalam penderitaan, kalau fokus hidup tetap dijaga. Tidak terpaku pada beratnya penderitaan, melainkan mencari maksud Tuhan. Di sore terakhir di Rumah Sakit, saya coba ngobrol dengan pasien di sebelah. Ternyata dia ramah. Juga, minta  didoakan setelah tahu saya mahasiswa teologi! Senang rasanya bisa jadi berkat. Benar juga nasehat dosen saya. Walau dirawat  di Rumah Sakit, bukankah hati dan iman tidak perlu ikut-ikutan sakit?  (JTI)

Arsip