Renungan Minggu

Mempersiapkan Hari Esok, Menyadari Kekurangan Hari Ini

Beberapa tahun yang lalu saya bercakap-cakap dengan seorang teman. Saya menanyakan mengapa sudah lama tidak terlihat beribadah. Jawabnya mengejutkan, alih-alih mengira dia pindah beribadah di gereja lain, memang dia sudah lama tidak beribadah. Muak melihat kehidupan para aktivis gereja yang bertolak belakang dengan “wajah” mereka di gereja. Pada saat yang sama, rekan bisnis di luar gereja lebih “jujur” dengan kehidupan mereka. Menurutnya, percuma rajin beribadah, jika hidup tidak sesuai dengan ibadah. Hidup “baik” saja cukup; jujur, adil, rajin berderma, dan tidak merugikan orang lain secara tidak sah. Terdengar bijak tetapi sayang tidak benar.

Lima orang gadis yang bodoh melakukan hal yang sama. Sebagai “panitia”pernikahan, mereka adalah orang yang terpilih untuk menyongsong kedatatangan mempelai pria. Mereka sudah membawa pelita, sayang mereka lalai tidak membawa persediaan minyak. Lima gadis itu
kurang bijak dalam mempersiapkan dan melaksanakan tugasnya.

Berjaga-jaga dengan bijak tidak berarti menihilkan realitas kemanusiawian. Sepuluh gadis itu lengah dan tertidur, mereka lelah dan bosan menunggu. Demikian juga kehidupan, ada kala datar, melelahkan, dan cenderung membosankan. Datar karena pada saat itu semuanya lancar, kebutuhan kita tercukupi, dan kita sehat walafiat. Dalam keadaan ini, seakan-akan tiada hal khusus yang membuat kita harus tetap tekun mencari kehendak Tuhan. Dalam kondisi ini sebenarnya kita punya banyak waktu luang, seharusnya untuk bersyukur dan menjaga relasi dengan-Nya, tetapi
sering kita lengah dan pada akhirnya hanya melihat hal yang tidak penting, yaitu “keburukan” sesama kita. Lima gadis yang bijak juga tertidur, tetapi mereka siap ketika waktunya datang – mereka membawa cukup cadangan minyak untuk menyongsong mempelai laki-laki. Mereka menyempatkan diri untuk membawa cadangan minyak. Lima gadis yang bodoh tidak melakukan
hal tersebut, entah apa yang mereka lakukan pada waktu yang sama.
Hidup “baik” saja tidak cukup. Dengan terang Roh Kudus kita dapat lihat realita hidup kita yang rapuh dan kotor. Saya tidak menyalahkan kekecewaan pemuda itu, tetapi mengajaknya untuk memandang dari kebenaran firman Tuhan, bahwa hidup “baik” menurut dunia belum tentu benar menurut firman Tuhan. Tidak ada manusia yang dapat mencapai mampu untuk mencapai standar tersebut (Roma 3:23).

Kenakan standar firman Tuhan ketika memandang diri kita. Masih banyak kelengahan dan kekurangan kita. Dengan anugerah-Nya, perjuangan untuk hidup menurut standar firman Tuhan perlu proses belajar yang seksama dan perjuangan yang tekun. Seperti lima gadis yang bijaksana,
tekun dan seksama mempersiapkan segala perlengkapan, menanti dengan sabar (pun sempat tertidur), dan siap sedia ketika waktu-Nya tiba. (DAA)