Renungan Minggu

Memberi Dari Kekurangan

1 Raj. 17:8-16; Mzm. 146; Ibr. 9:24-28; Mrk.12:38-44

Di suatu pagi, seekor ayam dan babi sedang berjalan bersama. Mereka melewati sebuah lingkungan yang kumuh yang dipenuhi dengan orang yang kelaparan dan berkekurangan. Kata Si Ayam, “Kasihan  orang-orang miskin itu, mari kita memberikan telor dan ham untuk membantu mengenyangkan perut mereka yang lapar”. Si Babi terdiam sejenak, lalu menyahut, “ Sebentar… sepertinya, telor darimu memang sebuah pemberian, tetapi ham dariku?? Itu adalah sebuah pengorbanan!”
Kita boleh saja tersenyum setelah membaca fabel ini. Tetapi memberi dari kekurangan adalah bentuk pengorbanan diri yang nyata dalam kehidupan orang beriman. Bacaan kita minggu ini berkisah mengenai pengorbanan dari seorang janda di Sarfat,yang di tengah kekurangan dan keterbatasan hidupnya, rela untuk menyisihkan persediaan makanannya yang terakhir untuk Elia (1 Raj 17:8-16). Kisah ini paralel dengan observasi Yesus terhadap persembahan seorang janda miskin di kotak persembahan bait Allah. Menurut Yesus, persembahan janda miskin ini jauh lebih besar nilainya daripada persembahan orang kaya yang secara nominal jauh lebih besar – “sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk. 12:44).
Teladan utama dalam berkorban (memberikan persembahan) kita dapatkan dari Yesus Kristus sendiri. Pemberian yang terbesar dalam kehidupan manusia yang diterima oleh manusia adalah totalitas pengorbanan Kristus bagi manusia dan dunia (Ibr. 9:24-28). Teladan Kristus ini hendaknya kita sikapi dengan sebuah ketaatan belajar mempersembahkan hidup secara keseluruhan untuk kemuliaan Tuhan. Dan keberanian mengambil langkah iman untuk berkorban (memberikan persembahan) dari dua janda miskin yang hidup di dua zaman berbeda ini hendaknya menjadi teladan bagi kita semua dalam memberikan persembahan. Memotivasi kita semua untuk mewujudnyatakan persembahan tersebut dalam keberanian kita mengambil langkah iman untuk berkorban – dengan memberi bukan dari kelebihan, melainkan dari kekurangan kita. (DAA)