Renungan Minggu

Lidah Seorang Murid

Pak Bowo hampir diterima bekerja. Tes psikologi lolos. Keterampilan oke. Pengalaman segudang. Hasil wawancara memuaskan. Tetapi diam-diam, mantan boss-nya mengatakan pada staff rekrutmen tempat Bowo mendaftar kerja, bahwa Bowo tidak jujur. Para staff mempercayainya. Alhasil Bowo tidak jadi diterima dan perusahaan itu kehilangan calon karyawan potensial.
Lidah, walau kecil ukurannya, sangat besar kuasanya (Yak 3:1-12). Bagai roda kemudi kapal. Diameternya hanya 50-100 cm, namun bisa mengendalikan kapal pesiar raksasa berdaya tampung 3.000 orang. Dengan lidah kita ucapkan perkataan yang mengubah banyak hal. Ia bisa membuat kekasih tersanjung, bisa juga membuat orang lain tersandung. Sebuah kata pendek, “YA”, dapat memulai transaksi bisnis yang besar, memasukkan kita dalam pelayanan, atau mendepak seseorang keluar dari tempat kerja. Melihat betapa berkuasanya lidah, firman Tuhan mengajarkan pentingnya menguasai lidah.  Ia harus dikawal. Digunakan berhati-hati, agar tidak menyakiti sesama. Dijaga agar tidak sembarang menilai orang lain. Disensor agar tak terucap kata-kata yang kelak akan kita sesali dan tak dapat ditarik kembali. Jika dipakai sembarangan, lidah bagai api yang bisa menghanguskan orang lain dan diri sendiri.
Bagaimana mengendalikan lidah? Tergantung siapa yang kita jadikan boss atasnya. Kalau emosi diri yang menjadi tuan, lidah akan mengucapkan tiap kekesalan dan umpatan. Muncul perkataan liar yang menghancurkan keharmonisan. Sebaliknya, jika Tuhan dijadikan tuan atas lidah, perkataan yang keluar bisa  “memberi semangat baru pada yang letih lesu” (Yes 50:4). Ini hanya mungkin ketika kita mau menjadi muridNya. Tiap hari berguru. Mendengar dari Sang Firman, apa yang harus kita ucapan dan mana yang harus disensor.  Sudahkah Anda memiliki lidah seorang murid? (JTI)