Renungan Minggu

Lebih Dari Yang Kita Harapkan

Kita sebagai manusia adalah makhluk unik dengan sejuta keinginan dan harapan. Biasanya kita punya harapan tertentu atas apa yang akan terjadi atas diri kita atau orang lain. Kita berharap dapat sembuh total dari penyakit, mendapat pasangan sesuai keinginan kita, berharap gereja bertumbuh, Indonesia menjadi lebih baik, banyak harapan lainnya. Tentu tidak salah memiliki harapan, namun menjadi masalah ketika harapan-harapan tersebut membatasi bahkan “mendikte” Tuhan. Seringkali kita melupakan kenyataan bahwa Allah tidak terbatasi oleh ruang-waktu, dan hikmat-Nya melebihi hikmat manusia. Kita menginginkan Tuhan yang sesuai dengan harapan kita, padahal lebih sering terjadi kebalikannya: Tuhan bekerja di luar dugaan dan keinginan kita.

Lihatlah Naaman yang hampir tidak sembuh dari kustanya karena melihat cara penyembuhan yang dianjurkan Elisa terlampau sederhana dan tidak sesuai harapannya (lih. 2 Raj. 5:10-12). Petrus ditegur karena konsep Mesias yang dia harapkan tidak sesuai dngan gambaran Tuhan: Mesias yang akan menderita, mati dan dibangkitkan (Mat. 16:21-23). Orang banyak mencari Yesus karena berharap perut mereka dapat dikenyangkan dengan roti, tetapi apa yang Tuhan sediakan adalah “Roti Hidup.” akhirnya sebagian besar mereka menolak Yesus (Yoh. 6:25 dst.). Maria berharap dapat bertemu dengan jenazah Yesus yang masih terbungkus kafan di kubur, tetapi Ia telah bangkit (Yoh. 20:11-18). Karya Allah seringkali tidak sesuai dengan apa yang manusia (kita) harapkan.

Kebenaran ini pulalah yang diangkat oleh Paulus di surat Efesus, dimana ia menggambarkan sisi “misterius” dari hikmat dan jangkauan kasih Allah. Dia telah menyatukan orang Yahudi dan non-Yahudi ke dalam satu tubuh sehingga tercipta satu komunitas Kristen yang multi-kultur dan juga multi-ras. Ini merupakan keadaan yang tidak pernah diimpikan ataupun dibayangkan di masa itu (mungkin pula di masa kini). Hikmat dan kasih Allah sungguh tidak terukur dan tidak terselami. Itulah sebabnya Paulus mengungkapkan suatu doa yang paradoksal, yaitu agar jemaat dapat memahami apa yang tak terpahami (Ef. 3:14-19).

Di hadapan Tuhan yang seperti ini—yang hikmat, kasih, dan kuasa-Nya tidak terbatas dan seringkali karyaNya berbeda dari harapan-harapan kita—respon seperti apakah yang dapat dan harus kita tunjukkan? Tidak lain hanyalah kekaguman, ketundukan, dan penyerahan diri total yang disertai dengan doksologi: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, … bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya” (Ef. 4:20-21).

Arsip