Renungan Minggu

Kristus, Roti Hidup

Makanan, oh makanan! Seberapa pentingnya efek makanan dapat terlihat jelas ketika orang kelaparan. Hebatnya efek lapar bisa kita temukan dalam kisah umat Israel yang bersungut-sungut terhadap Musa dan Harun, bahkan menuduh mereka hendak membunuh umat (Kel. 16:2-4,9-15). Namun Tuhan mendengarkan sungut-sungut mereka dan mengirimkan daging saat petang dan roti saat pagi.
Roti Manna (Kel. 16: 31) menjadi lambang penyertaan Allah. Peristiwa ini sungguh berarti bagi  orang Yahudi. Ini dapat kita lihat dalam dialog antara Yesus dan orang Yahudi di Yoh. 6:30-31. Mereka membayangkan roti yang dimaksud oleh Yesus sebagai roti biasa yang bisa mengenyangkan perut. Seperti roti manna yang menjadi bukti penyertaan dan kuasa Tuhan kepada nenek moyang mereka. Namun Yesus berkata bahwa Ia adalah ‘roti hidup.‘ Bahwa roti yang diberikanNya adalah dagingNya sendiri yang diberikan untuk hidup dunia. Disini Yesus berbicara tentang pengorbanannya di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Penebusan dosa adalah kebutuhan utama manusia. Sebab melaluinya manusia didamaikan dengan Allah dan memiliki relasi akrab dengan Allah. Melaluinya manusia mendapat muara pengampunan dan berujung pada kehidupan kekal bersama Allah.
Hari ini kita memakan roti dalam perjamuan. Mari kita ikuti perayaan perjamuan ini dengan kerendahan hati di hadapan Allah. Perjamuan tidak hanya sekedar mengenang karya penebusan, tetapi juga menyadarkan akan apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang telah ditebus. Merayakan Perjamuan Kudus berarti juga memperbaharui komitmen ketaatan kita pada Allah. Rasul Paulus dalam Ef. 4:1-16 mengingatkan kita sebagai orang-orang yang telah dipanggil (ditebus) agar hidup rendah hati, lemah lembut, sabar dan menunjukkan kasih dengan saling membantu. Di dalam satu Tuhan, kita perlu memelihara persatuan dalam ikatan damai sejahtera. Para hamba Tuhan dikirim untuk memperlengkapi gereja bagi pekerjaan  pembangunan gereja, agar gereja bertumbuh dalam kasih dan terarah pada Kristus. Agar karya penebusanNya tidak menjadi sia-sia.
Selamat menghayati karya kasih Allah dan memperbaharui komitmen ketaatan. Roh Kudus memampukan! –TBV-

Arsip