Renungan Minggu

Kemuliaan Allah Dinyatakan Dalam SolidaritasNya

Ciri manusia yang hidup dalam era modernisasi saat ini adalah instan, praktis dan ekonomis. Apalagi di tengah-tengah situasi yang hal-hal tersebut  semakin mengukuhkan sifat manusia. Selanjutnya sudah dapat dipastikan akibat yang muncul dari perilaku manusia adalah : tidak mau repot, tidak mau melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan keuntungan, dan yang paling jelas adalah ketidakpedulian. Dan sadar atapun tidak, diakui ataupun tidak ternyata perilaku ini telah menodai iman dan komitmen hidup kekristenan.
Kalau kita mau merenungkan dan menyadari kehidupan kita sepenuhnya bukankah kita bisa hidup dan kehidupan yang kita jalani seperti sekarang ini adalah wujud dari perhatian dan kepedulian Allah (solidaritas Allah)? Solidaritas Allah adalah tindakan bebas Allah untuk mewujudkan cinta-Nya yang total kepada manusia dan mewujudkan kerinduan-Nya yang mendalam untuk menyelamatkan manusia. Tindakan solidaritas Allah itu diwujudkan dengan kesediaan-Nya untuk menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Solidaritas-Nya ada dalam kenyataan bahwa Ia rela bersama kita masuk dalam persoalan-persoalan, kebingungan, ketidakberdayaan, dan sekaligus pertanyaan-pertanyaan kita. Ia melibatkan diri-Nya sendiri untuk hidup berbagi rasa dalam kegembiraan dan penderitaan kita, untuk membela dan melindungi kita dan untuk menanggung seluruh suka duka kehidupan bersama kita. Allah beserta kita adalah Allah yang dekat, Allah tempat kita mencari perlindungan, pegangan, dan pertolongan. Ia meninggalkan keagungan-Nya dan kekuasaan-Nya untuk masuk dalam kerapuhan dan keringkihan manusia.
Salah satu wujud yang paling nyata selain dari inkarnasi Allah adalah: Yesus yang memberi diri untuk dibaptiskan. Baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis bukan baptisan pertobatan namun baptisan yang menyatakan bahwa Ia solider terhadap manusia. Jadi solidaritas Allah itu ditandai dengan gerak turun dari pihak Allah untuk mendekati manusia dan tinggal bersama manusia supaya pada saatnya bisa membawa manusia kepada keselamatan. Gerak turun itu digambarkan dengan sangat menarik oleh Karl Barth, “daripada mengusahakan kedudukan yang lebih tinggi, kekuasaan yang lebih besar, pengaruh yang lebih luas, Yesus bergerak dari ketinggian kepada kedalaman, dari kemenangan kepada kekalahan, dari keagungan kepada penderitaan, dari kehidupan kepada kematian.” Maka kita harus bersyukur kepada Allah kita, Allah yang solider dan berbelas kasih kepada kita. Dan itulah kemuliaan Allah. (JS)

Arsip